Saturday, 22 January 2011

Air Galon

Minggu pagi besok kami berencana melakukan pindahan yang selama ini selalu tertunda. Saya pun melirik ke arah galon yang belum lama ditaruh di dispenser.

"Wah, gimana nih bawa galon yang udah dibalik ini? Masih banyak pula isinya."

"Oh iya ya. Gimana bawanya?" kawan saya menanggapi.

"Suruh aja semua orang menghabiskan air di dalamnya," saya menyeletuk.

"Mmh, gimana kalau tinggalkan saja di sini sampai habis?"

"Jadi kita bolak-balik nih ceritanya. Nanti pas di rumah baru terus merasa haus kita ke sini dulu? Yah, meski jaraknya cuma empat rumah, tapi enggak gitu juga kan.."

=_=a

Tuesday, 18 January 2011

Informasi Pendaftaran Beastudi Etos Tahun 2011

Seleksi penerima Beastudi Etos diadakan setiap tahun, dibuka pada bulan Januari. Sejak 2011, quota penerimaan adalah sebanyak 150 mahasiswa per tahun.

Tahapan seleksi sebagai berikut :

1. Seleksi administratif
2. Tes tulis & wawancara
3. Home visit
4. Seleksi masuk PTN

Persyaratan Umum :

* Lulus SMA/ sederajat
* Akan mengikuti seleksi masuk PTN program S1
* Diterima pada PTN dan jurusan yang direkomendasikan Beastudi Etos

Persyaratan Khusus :

* Beragama Islam
* Berasal dari keluarga tidak mampu
* Melampirkan surat keterangan tidak mampu dan slip gaji/surat keterangan penghasilan dari ketua RT atau DKM setempat
* Melampirkan Daftar Riwayat Hidup/ Biodata
* Mengisi dan menandatangani akad Beastudi Etos
* Melampirkan fotokopi raport SMA semester 1 – 5, STTB (bagi yang sudah lulus), Kartu Keluarga, KTP/ Kartu Pelajar
* Pas Foto 4 x 6 sebanyak 2 lembar
* Foto rumah (tampak keseluruhan, dan bagian dalam)
* Membuat tulisan tentang perjalanan kisah hidup

Biodata dan Akad Beastudi Etos dapat diunduh di sini.

Adapun jurusan yang direkomendasikan, dapat dilihat di sini.

Seluruh berkas pendaftaran dapat dikirimkan melalui ke alamat Asrama Beastudi Etos daerah terdekat dari calon pendaftar.

Contact Person Panitia Daerah :

Padang :


Meifal Rusli (0812 6695 3417) atau Parwanto (0852 6396 7234)

Asrama Beastudi Etos Padang : Kelurahan Kepalo Koto no.43, Kec. Pauh, Padang 25163

Jakarta :

Abdurakhman (0813 1084 5934) atau Ali Mulyadi (021 3433 7848, 0857 8174 2926)

Asrama Beastudi Etos Jakarta : Jl. Merak No. 6 RT. 03 /02, Kel. Beji Timur, Kota Depok 16424

Bogor :

Setyo Budi (0813 1760 6699), atau Robbi (0852 1565 7054)

asrama Etos (0251) 862 6633

Asrama Etos Bogor : Jl. Kampus Dalam IPB Dramaga, Babakan Raya 4 No. 68 RT 7/RW 3, Kec. Dramaga, Kab. Bogor 16680

Bandung :

Gantina Rahmaputri (0857 2339 2542, 0878 2193 7797) atau Nur Ahmadi (0813 1288 8188)

Asrama Etos (022) 250 8235

Asrama Etos Bandung : Jl. Ciheulang 89 Sekeloa 40134

Semarang :

Effendi Nugroho (0811 272 6772) atau Pariman (0852 2699 2485)

Asrama Etos Semarang : Jl. Banjar Sari, Gang Iweni Sari No. 18 Tembalang, Semarang 50275

Yogyakarta :

Murwantoko (0878 3811 5905), Fauziatul Muslimah (0857 2979 0039), Dunilah (0857 2936 4921)

Asrama Etos Yogya : Jl. Kaliurang KM 5,6 Gg. Pandega Duksina CT 1 No. 14 A, Depok Condong Catur, Sleman, Yogyakarta 55281

Malang :

Abdul Khaqim (0856 4955 2474), Harisah (0857 4950 3783), Ajeng (0852 3457 7714)

Asrama Etos Malang : Jl. Watu Gilang 1 No.19, Ketawang Gede, Lowokwaru, Malang 65145

Surabaya :

Nurul Aisyah (0856 4812 6140), Sayyid Bashori (0857 3077 9358), Muamar Khadafi (0852 301 41 990)

Asrama Etos Surabaya : Jl. Keputih Gang 3 no.47, Sukolilo Surabaya 60111

Makasar :

Anwar (0811 417 504), Ranto Ari P (0852 9964 6620), Misbahuddin Azis (0813 5585 4858), Rahmawaty (0852 4273 6427)

Asrama Etos Makassar : Komplek BTN Asal Mula Blok D5/5, Kel. Tamalanrea Indah, Kec. Tamalanrea, Makassar 90245

Samarinda:

Dompet Dhuafa Samarinda (0541 748711), Sapar (0856 5424 1078)

Unit Layanan Dompet Dhuafa Kalimantan Timur

Jl. Camar No. 98 RT. 27, Kelurahan Bandara, Kecamatan Samarinda Utara, Samarinda

—

Jika ada pertanyaan, terutama untuk Etos wilayah Bandung, silakan kirim email ke nur.el.ahmadi@gmail.com atau YM: magic_power132. Terima kasih.

Saturday, 8 January 2011

Berganti Logo

Akhirnya sempat juga mencoba untuk mengganti logo blog...
Jadi terasa lebih spesial, semoga jadi tambah semangat menulisnya nih. Amin.

hasil setelah logonya diganti

Terima kasih kepada Rinei Martiani yang telah memposting info bagus ini di blognya...


Pertama, masuk ke dashboard, lalu pilih design, dan gunakan tab edit html.

Kedua, cari dalam kode-kode itu bagian yang serupa dengan ini ]]></b:skin>
Saran: gunakan mesin pencari agar lebih cepat dan mudah (bisa dengan menekan ctrl+F atau pilih menu Edit - Find)

Terakhir, ganti kode tersebut dengan ]]></b:skin>< link href="Your image URL" rel="shortcut icon" type="image/x-icon"/>

Your Image URL silakan diganti dengan URL gambar yang hendak digunakan. Mudah bukan?

Selamat mencoba. Let's be special~~

Thursday, 23 December 2010

Take time to ...

Take time to THINK. It is the source of power.

Take time to READ. It is the foundation of wisdom.

Take time to QUIET. It is the opportunity to seek God.

Take time to DREAM. It is the future made of.

Take time to PRAY. It is the greatest power on earth.

-author unknown-

Friday, 17 December 2010

Virus Shortcut

Ini saya copy dari file *.txt milik seorang teman... cukup efisien untuk mengatasi gangguan virus yang suka bikin shortcut atas nama folder kita dalam flashdisk. Silakan dicoba...


Buat temen2 yang udah kesel sama VIRUS SHORTCUT:
buka notepad, terus ketik :

echo
del *.lnk
del x.exe
del meidu.exe
del meidux.exe
del ert.dll
attrib -s -h -r /s /d *.*

disave aja jadi "anti-shortcut.bat" di flashdisk yg sering kena virusnya ....
file ini tinggal dibuka kalo semua folder di flashdisk ilang & muncul shortcut2 ga jelas gitu......

Wednesday, 1 December 2010

Abdi neda, ibu ....

Ini adalah kisah saat saya masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Suatu cerita yang menunjukkan bahwa lingkungan memberikan dampak yang lebih besar daripada pelajaran di sekolah. Mungkin detailnya tidak bisa saya ingat karena saat itu saya masih sangat belia. Tapi intisarinya masih bisa saya sampaikan di sini.

Sewaktu duduk di kelas satu sekolah dasar, semua siswa mendapatkan kewajiban untuk belajar bahasa daerah. Alhasil kami semua mendapatkan mata pelajaran bahasa daerah sesuai dengan lokasi sekolah kami berada, yaitu Bahasa Sunda. Minggu-minggu pun dilalui tanpa melewatkan tatap muka dengan guru Bahasa Sunda kami di kelas. Hingga tiba saatnya untuk mengevaluasi hasil belajar kami dengan diadakan ulangan untuk setiap mata pelajaran, ya, termasuk mata pelajaran Bahasa Sunda ini.

Tibalah saat kami menghadapi soal-soal ulangan mata pelajaran Bahasa Sunda. Saya baca satu per satu soal-soal yang ada pada lembaran soal itu. Kebanyakan hanyalah berupa isian pendek, maklum, namanya juga soal ulangan untuk siswa kelas satu sekolah dasar. Perintahnya rata-rata menyuruh untuk melengkapi kalimat-kalimat yang terpotong, salah satunya :
Abdi neda, ibu ...

Sesaat setelah saya membaca soal itu, saya langsung menuliskan apa yang terlintas dalam benak saya. Ya, karena saya pikir soal itu sangat mudah sekali.

Dalam bahasa daerah memang seringkali ada tingkatan yang berbeda-beda dari penggunaan kata. Sehingga perkataan yang ditujukan untuk teman sebaya akan berbeda dengan perkataan yang ditujukan untuk orang yang lebih tua. Nah, begitu pula untuk percakapan dalam bahasa Sunda.

Waktu pun berlalu, hingga tiba saatnya hasil ulangan mata pelajaran Bahasa Sunda kami dibagikan. Saya sangat terkejut melihat lembaran jawaban saya. Saya heran, mengapa soal yang saya anggap mudah itu dicoret dan dinyatakan salah oleh guru saya. Sedih rasanya, namun kesedihan itu tidak saya tunjukan di sekolah.

Setibanya di rumah, saya menceritakan mengenai hasil ulangan saya itu, terutama mengenai soal yang mudah tersebut kepada seluruh penghuni rumah. Namun apa yang saya dapati. Mereka semua malah menertawakan saya, karena yang saya tulis di kertas jawabannya adalah
Abdi neda, ibu dahar

Sudah sewajarnya kalau saya mengisikan kata tersebut di kertas jawaban saya. Ketika itu Saya sering mendengar kata itu ditujukan untuk mbah kakung (sebutan untuk kakek dalam bahasa jawa-red) ketika sedang ditawari makan. Jadi yang ada dalam pikiran saya ketika itu ya kata itulah yang benar sebagai jawaban. Padahal yang sehari-hari saya dengar itu adalah bahasa Jawa, bukan bahasa Sunda.

Iya, dalam bahasa Jawa, kata 'dahar' memang ditujukan untuk orang yang lebih tua, sedangkan dalam bahasa Sunda, kata 'dahar' justru merupakan bahasa yang kasar, bahkan tidak baik dipakai untuk teman sebaya sekalipun. Jadi, karena yang saya ikuti adalah mata pelajaran Bahasa Sunda, jawaban tersebut menjadi tidak tepat.

[masih banyak kata yang memiliki kesamaan lafal dan penulisan namun berbeda maknanya dalam berbagai bahasa, ini hanya salah satu contoh saja. tidak ada maksud membeda-bedakan, karena semua memiliki keunikan masing-masing]

Saturday, 20 November 2010

Aku Juga Punya Peran

Entah mengapa, orang-orang ramai meributkan kata ‘kontribusi’ dan ‘kontribusi’. Aku benar-benar tidak paham, apa sih yang mereka ributkan itu. Karena penasaran, aku pun bertanya pada guruku di sekolah.

“Pak, kontribusi itu apa sih? Mengapa orang-orang ramai meributkan itu?” tanyaku pada pak Soleh, guru IPS-ku di sekolah.

“Wah, ada apa Cecep bertanya seperti itu pada bapak?”

“Kemarin, waktu aku membantu ibu berjualan gorengan di terminal, aku melihat orang-orang sedang membaca koran. Lalu di halaman depannya tertulis kata itu dengan huruf yang besar-besar, Pak. Aku juga mendengar percakapan mereka menyebut-nyebut kata itu. Jadi aku penasaran, mengapa orang-orang itu begitu ramai membicarakannya.”

Mendengar penuturanku yang panjang itu, pak Soleh memanggut-manggutkan kepalanya seraya menjawab, “Kontribusi adalah apa yang bisa kamu berikan, Nak. Misal, kontribusi untuk sekolah, berarti apa yang bisa kamu berikan untuk sekolah. Kontribusi untuk negara, ya, apa yang bisa kamu berikan untuk negara ini, Nak. Nah, sekarang coba pikirkan, apa kontribusimu kepada negara ini?”

Mendengar penjelasan pak Soleh, aku jadi termenung, memikirkan kata ‘kontribusi’ itu, juga memikirkan pertanyaan beliau.

Aku hanyalah seorang anak kelas empat SD. Hidupku juga biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, aku membantu ibuku mengoreng bala-bala dan tahu isi untuk dijajakannya di terminal. Sepulang sekolah, aku langsung menuju terminal untuk membantu ibu menjual habis dagangannya. Kalau sudah habis, barulah aku pulang dan mengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Tapi itu pun tidak menentu, kadang pulang di sore hari, kadang pula sampai larut malam baru aku bisa pulang. Kalau pulang sore, berarti hari itu aku sedang beruntung, selain karena dagangan ibuku cepat laku, aku juga bisa lebih awal menyelesaikan tugas-tugasku. Kalau ternyata pulang larut malam, berarti aku harus ekstra terjaga untuk menyelesaikan tugas-tugasku itu.

Begitulah kegiatan keseharianku, tidak ada kata bersantai atau bermalas-malasan. Aku hanya memegang perkataan almarhum ayahku, “Apa yang kamu capai adalah apa yang kamu usahakan.” Tapi apa yang aku punya yang bisa aku berikan untuk negara ini. Aku tidak punya apa-apa, bahkan untuk makan hari besok pun aku tak tahu.

Hari itu, hingga larut malam, aku masih merenungi pertanyaan pak Soleh, guruku itu.
Hari-hari pun berlalu, aku masih belum memahami perkataan guruku itu, hingga akhirnya aku terjebak dalam suatu rutinitas yang membuatku terlupa akan hal itu.

***
Satu bulan berlalu.

Hari ini ada sekelompok mahasiswa datang ke sekolahku. Mereka membawa banyak gulungan poster dan kertas gambar, juga buku-buku dan alat mewarnai. Mereka mengaku berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tapi adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi yang terkemuka di daerahku.

Ternyata mereka datang untuk memberikan pengarahan kepada kami, murid-murid di SD ini, untuk berhemat dalam pemakaian listrik. Mereka menunjukkan poster-poster yang menarik dan membagikannya kepada kami untuk dipajang di rumah kami masing-masing. Mereka juga membagikan gambar-gambar yang bagus untuk diwarnai.

Di akhir kunjungan, mereka memberi kesempatan kepada kami untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.

“Kak, jadi kalo aku mau berhemat, aku harus memilih antara menonton televisi atau mendengarkan radio. Tidak bisa dua-duanya sekaligus ya Kak?” tanya seorang siswi berkepang dua yang duduk di depan kelas.

“Iya, tentu saja. Kamu kan tidak bisa fokus terhadap dua hal sekaligus. Jadi pilihlah salah satu saja. Itu pun sudah bisa dikatakan sebagai perilaku berhemat,” jawab kakak berjilbab biru.

“Nah, siapa yang mau hidup hemat?” tanya seorang kakak yang berjanggut tipis.

Spontan seisi kelas mengacungkan tangannya, tapi aku ragu-ragu waktu mengangkat tanganku. Sepertinya kakak yang berjanggut itu kebetulan melihat ke arahku dan melihat tanganku yang naik turun tidak yakin. Dia pun menghampiriku dan bertanya, “Hai, Dik. Siapa namamu?”

“Cecep,” jawabku singkat.

“Mmh, Cecep sepertinya ragu-ragu yah waktu mengangkat tangan tadi. Ada apa?”

Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.

“Ayo, katakan saja. Tidak perlu takut ataupun malu, Cep.”

Setelah lama terdiam, akupun memutuskan untuk angkat bicara.

“Begini, Kak. Eh, anu… Jadi, ah…”

“Tidak perlu grogi begitu, Cep. Santai saja.”

“Iya, jadi begini, Kak. Tadi kan Kakak bilang kita bisa berhemat kalau kita memilih salah satu, apakah menonton televisi atau mendengarkan radio saja. Tapi aku tidak punya televisi ataupun radio, Kak. Jadi aku tidak bisa berhemat dong, Kak?”

Kakak berjanggut itu tersenyum mendengar pertanyaanku yang polos itu.

“Apa di rumahmu ada lampunya?”

“Ada Kak, ada empat. Di depan, di kamar, di kamar mandi, sama di dapur.”

“Apakah semua lampu itu selalu dinyalakan?”

“Kalau sudah malam, ya semua lampu dinyalakan Kak. Kan biar tidak gelap.”

“Meski kamar mandi sedang tidak dipakai?”

“Iya.”

“Nah, di situ kamu bisa berhemat Cep.”

“Maksudnya Kak?”

“Iya, kalau memang tidak diperlukan, lampu-lampu itu bisa dimatikan. Misal setelah selesai mempergunakan kamar mandi, atau ketika hendak tidur, kita bisa matikan lampunya.”

“Kak, kan itu hanya lampu. Apa dengan itu saja aku sudah bisa berhemat?”

“Tentu. Karena di sini yang dilihat bukan jenis barangnya, tapi lama penggunaannya. Jadi dengan memperpendek waktu lampu dinyalakan, kamu juga bisa berhemat lho.”

“Tapi Kak, kayaknya hanya sedikit sekali yang bisa aku hemat. Apa ada pengaruhnya ya Kak?”

“Begini ya Cep. Misal kita anggap daya yang dipakai untuk menyalakan lampu kita itu adalah satu bagian. Dengan mematikan satu lampu berarti kita membantu meringankan kerja pembangkit listrik sampai enam kali bagian itu. Nah, bagian-bagian itu bisa disalurkan ke tempat yang lain. Masih ada lho teman-teman yang bahkan di rumahnya tidak ada lampu seperti di rumah Cecep. Itu bisa jadi kontribusi Cecep dalam membantu teman-teman Cecep yang belum bisa merasakan lampu yang menyala di rumahnya. Karena usaha menghemat penggunaan listrik itu lebih mudah daripada membangkitkannya lho.”

Kontribusi? Aku jadi teringat dengan apa yang aku tanyakan pada pak Soleh beberapa waktu yang lalu.

“Kontribusi? Apa dengan itu aku jadi bisa berkontribusi untuk negara ini Kak?” semangatku tiba-tiba menjadi berkobar-kobar.

“Iya, tentu saja,” jawab kakak berjanggut itu dengan yakin.

“Tidak perlu punya baju bagus, rumah gedung, dan mobil mewah, aku tetap bisa berkontribusi?”

“Iya, tentu Cep.”

“Hanya dengan mematikan lampu kamar mandi saja aku bisa berkontribusi?”

“Iya, itu salah satunya. Kalau kamu bisa melakukan hal-hal yang lebih hebat, mengapa tidak. Tapi jangan lupa, banyak hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk membuat suatu perubahan besar.”

“Terima kasih, Kak.”

***
Pak Soleh, sekarang aku tahu jawaban dari pertanyaan bapak waktu itu.

***

#Sebuah kisah sederhana yang diharapkan dapat menumbuhkan inspirasi-inspirasi baru#


Oleh Dita, seorang mahasiswi Teknik Tenaga Listrik,
yang mencoba peduli dengan permasalahan negeri.