Thursday, 28 March 2013

Boy!

"Bro" merupakan kata sapaan yang sering terdengar sebagai kependekan dari "brother". Dari bahasa asalnya (bahasa inggris) kata "brother" berarti saudara laki-laki, sehingga sapaan ini umum ditujukan untuk kawan laki-laki yang sudah seperti saudara sendiri atau dianggap sebagai saudara karena akrabnya. Lalu bagaimana untuk kawan yang perempuan? Sapaan yang dikenal adalah "sist" sebagai kependekan dari "sister". Sehingga cukup akrab di telinga sapaan "bro & sist".

Boy!

Lalu bagaimana dengan kata "boy" ini? "Boy" merupakan kata dalam bahasa inggris yang berarti anak laki-laki.  Entah, apakah di daerah asalnya, kata ini dipakai untuk menyapa anak laki-laki atau tidak. Hal yang pasti adalah kata "boy" sudah menjadi kata sapaan akrab untuk saling menyapa mahasiswa satu jurusan saya (yang dominan memang laki-laki). Hmm, saya merasa dibanding mengatakan, "Eh, Kamu!" memang lebih enak terdengar, "Eh, Boy!" (tapi tidak dengan nada lemah lembut ya..)

Jadi, apa masalahnya? Kebiasaan ini ternyata terbawa sampai keluar wilayah jurusan. Ya, tanpa disadari, saya jadi lebih nyaman menyapa orang lain dengan kata "boy" ini, entah dia laki-laki atau pun perempuan. Tidak mengherankan jika ada orang yang terhenti sesaat/sedikit memincingkan mata/agak bertanya-tanya - terutama perempuan - ketika saya secara spontan menggunakan kata "boy" ini sebagai sapaan. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan kata sapaan ini. 

Bahasa bisa berkembang kok. Dalam kasus ini anggap saja ada perluasan makna (ini hanya alasan penulis saja, tidak perlu ditanggapi serius).

Sunday, 24 February 2013

(padahal) Selangkah lagi

Sepulang dari acara sehat mingguan (baca: lari pagi), seorang kawan memutuskan untuk membeli ikan untuk mengisi kolam di rumahnya. Tentu saja saya menemani karena keputusan ini didasari oleh penuturan saya yang menyatakan bahwa ada toko yang menjual ikan di jalan yang akan kami lewati untuk pulang. Berbekal petunjuk mama yang bilang kalau letak toko ikan itu tidak jauh dari belokan setelah keluar gerbang tol (karena saya sendiri sebenarnya belum tahu letak toko tersebut) maka kami memacu kendaraan dengan lambat sembari memerhatikan setiap toko yang terlewati.

Setelah melewati beberapa kios, tak jua nampak toko yang kami cari-cari.

"Ah, itu," seru kawan saya, "Ikannya sudah dimasak," tambahnya sembari menunjuk sebuah rumah makan padang di sisi jalan.

Haha, sudah tampak putus asa rupanya. Karena rasanya sudah jauh kami berjalan dari keluar gerbang tol, tapi toko itu belum terlihat juga. Hingga akhirnya kami menemukan rumah makan padang yang kesekian sembari melontarkan candaan yang serupa setiap menemukan hal yang sama. Kami pun mengakhiri pencarian, kemudian memutuskan untuk langsung pulang saja. Kandas sudah niatnya untuk membeli ikan saat itu.

Hari-hari berganti. Suatu kondisi menyebabkan saya harus melewati jalur yang sama dengan waktu itu untuk pulang. Yang berbeda adalah kondisi jalan yang sangat macet menjadikan setiap kendaraan bergerak dengan sangat lambat hingga dapat membuat bosan para penumpang. Macet yang super itu hampir membuat saya jengkel juga, tapi saya tiba-tiba teringat kembali dengan toko ikan yang sebelumnya saya cari-cari. Dan ternyata lagi-lagi yang saya jumpai adalah rumah makan padang sehingga saya tersenyum-senyum sendiri mengingat candaan kami waktu itu.

Tak lama setelah melewati rumah makan padang yang terakhir kami amati, saya melihat tulisan "... aquarium" di suatu kios.

"Itu dia!"

Oke, kalau waktu itu kami tidak cepat-cepat mengakhiri pencarian, niscaya kami akan menemukan toko ikan saat itu juga. Nice!

Tuesday, 27 November 2012

Pulpen Macet, Jangan (Langsung) Dibuang

Penyakit kalau sedang beres-beres adalah malas memilah barang-barang, mana yang masih layak pakai, mana yang tidak. Kalau yang sedang dibereskan adalah peralatan tulis-menulis, seringkali pulpen macet ditemukan padahal rasanya belum begitu sering dipakai, hanya terlupa sehingga tidak sempat dipakai. Sayang kalau langsung dibuang. Sebaiknya dicek dulu apakah tintanya masih ada atau tidak. Kalau memang tintanya sudah habis, ya, untuk apa masih disimpan. Sehingga lebih baik segera disingkirkan agar dapat memberi ruang untuk peralatan yang lain. 

Nah, bagaimana kalau ternyata tintanya masih ada? Mungkin saja tintanya mengeras sehingga menjadikan pulpen tidak bisa dipakai menulis alias macet. Seringkali kita menggunakan kaca sebagai alternatif untuk memastikannya bisa digunakan kembali, yaitu dengan mencoret-coretkan ujung pulpen ke permukaan kaca. Cara seperti ini terkadang berhasil, seringkali tidak berhasil juga. Biasanya cara seperti ini berhasil jika pulpen tersebut tidak digunakan dalam jangka waktu yang pendek.

Saya mendapat tips untuk mengatasi ketidakberhasilan cara pertama tadi dari ibu saya. Ternyata mudah saja. Ujung pulpen yang macet ditempelkan ke panci panas. Biarkan sesaat hingga ujung pulpen terasa hangat. Jangan terlalu lama, karena bisa-bisa malah pulpennya yang meleleh. Setelah itu coba dicorat-coretkan ke atas kertas. Jika masih belum berhasil, cara ini bisa dicoba berulang kali dan dikombinasikan dengan cara pertama. Selamat mencoba!

Saturday, 17 November 2012

Creative Day - Part 1 - Greeting Card

10.11.12 - It can be called a good combination number of date. It is caused many people making a moment at this day, such as wedding. It was not surprising that I got three invitation of wedding in this date. One of them is held outside Java Island. So I chosen the other two to be attended.

Giving a present is not a necessity if we want to attend an invitation. But I always like to do it. Beside that, I can make my own greeting card. It was very exciting for me.

For this moment, I made greeting cards in shades of orange. I used three color of cardboard: orange, light orange, and light yellow. I also used green ribbon for the complementary decoration.


Required equipment to make this greeting card are scissors, ruler, cutter, pencil, and glue (I forgot to take the picture of the last one ^^).


First step is making an envelope pattern on the cardboard. Adjust the size as you needed and cut it. Don't forget to make a slice for tucking the ribbon.

For the decoration, create the flower pattern on the cardboard. Make two size of this pattern in the different color of cardboard. After cut the patterns, stack them to be one heap.


Write down the greeting on the paper, and paste it inside the envelope. Tuck the ribbon and paste the flower part on it. For sealing, tie the ribbon.


Finish!


Sunday, 4 November 2012

Terjaga di Saat yang Tepat

Tiba-tiba dia duduk di sampingku. Aku pun kaget dan terjaga, sembari berusaha memahami situasi saat itu. Tak sampai tiga detik, aku menyadari bahwa ada hal yang harus kulakukan. Bersikap siaga.

Ini bukan kali pertama aku bertemu dengan mereka. Meski tak yakin mereka adalah orang-orang yang persis sama dengan yang saya jumpai pertama kali, tapi apa yang mereka lakukan tidak lah jauh berbeda. Bekerja berkelompok dan memanfaatkan kelengahan dan penuh sesak penumpang dalam bus kota. Hampir saja aku menjadi korban tangan-tangan jahil mereka.

Mungkin ada banyak cara yang mereka lakukan dalam beroperasi mencari mangsa. Tapi, setidaknya ada beberapa tindak-tanduk yang dapat diamati agar dapat bersikap siaga.

  1. Umumnya mereka bekerja secara berkelompok, jadi jika ada keributan di sisi lain bus, jangan kehilangan kewaspadaan karena bisa jadi masih ada komplotannya di samping kita yang menunggu kita lengah.
  2. Mereka seringkali memanfaatkan kondisi penuh sesak penumpang dalam bus. Selalu awasi barang bawaan, terutama dalam kondisi penuh sesak karena mereka berkesempatan merapat pada kita tanpa kita sadari.
  3. Biasanya mereka menutupi gerak-gerik tanggannya menggunakan tas kosong (mungkin tas gendong, bisa juga tas selempang) yang ditaruh di depannya. Kalau mendapati orang dengan tindak-tanduk mencurigakan dan berpenampilan seperti ini, bersikaplah siaga dengan selalu mengamati posisi tangan mereka dan menjauhkannya dari barang bawaan kita.

Meski mereka sering menggunakan kesempatan saat penuh sesak, bukan berarti kita bisa melonggarkan kewaspadaan kita. Ya, seperti hari ini. Kondisi bus yang kunaiki tidaklah penuh sesak. Bahkan ada banyak bangku kosong. Tapi ternyata, mereka tetap saja berusaha menjalankan aksinya. Untunglah, tadi aku terjaga di saat yang tepat, sehingga tidak jadi korbannya. Walaupun begitu, tampaknya aku tetap harus berhati-hati jika bertemu dengan mereka lagi, karena salah satu anggotanya melambaikan tangan dan memasang senyuman saat aku turun dari bus. Senyuman berbahaya. 

Semoga Allah selalu melindungi dan menjaga kita.

Sunday, 21 October 2012

Beastudi Etos Kembali Membuka Pendaftaran


Berikut saya kutip langsung pengumuman pendaftaran Beastudi Etos khusus wilayah Bandung (sumber: klik di sini).

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Assalamu’alaikum wr wb

Beastudi Etos kembali membuka pendaftaran bagi mahasiswi muslim S1 ITB dan Fakultas Hukum & Ekonomi UNPAD angkatan 2012.

Berkas Persyaratan :

1. Form Biodata (dapat diunduh disini)

2. Surat Keterangan Tidak Mampu

3. Surat Keterangan Penghasilan Orangtua

4. Fotokopi Kartu Keluarga, KTP, dan Kartu Mahasiswa

5. Foto berwana ukuran 4 x 6 (2 Lembar)

6. Kisah perjalanan hidup (tulis tangan di kertas folio bergaris)

7. Fotokopi Sertifikat Prestasi (jika ada)

8. Foto seluruh ruangan rumah

Berkas pendaftaran dikirim ke Asrama Beastudi Etos Bandung, Jl. Cisitu Baru no. 39

Jadwal Seleksi :

1. 18-26 Oktober 2012 : Pengumpulan Berkas

2. 28 Oktober 2012 : Tes Tulis dan Wawancara

3. 29-30 Oktober 2012 : Homevisit

Fasilitas Beastudi Etos :

1. Penggantian uang masuk kuliah

2. SPP tahun pertama

3. Uang saku Rp 500.000,00 / bulan dan asrama selama 4 tahun

4. Pembinaan Pengembangan Diri

Informasi lengkap dapat menghubungi Hana Nur Fitriana (087822011747)


Sunday, 7 October 2012

Mengapa Berhenti Menulis?

Sudah begitu lama saya tidak membuka-buka laman blogger saya sendiri. Alasannya klasik, tidak sempat. Meski sempat pun hanya sekedar melihat apa ada post baru dari kawan-kawan saya. Ya, hanya sekedar itu saja. Padatnya rutinitas kegiatan seolah-olah menghalangi timbulnya kesempatan untuk menulis. Padahal, setelah dipikirkan lebih jauh lagi. Bukanlah kegiatan lain itu yang menjadi penghalang untuk menulis, melainkan semuanya terletak pada diri saya sendiri.

Seringkali terlintas dalam benak saya. Kemanakah perginya cita-cita saya itu. Cita-cita untuk dapat menulis dan terus menulis. Hingga saya dapat menghasilkan tulisan yang bermutu dan bermanfaat. Mungkin juga hingga saya menerbitkan buku sendiri bila memang diperlukan.

Sayang, cita-cita itu akan terlupakan begitu saja tanpa sempat memulai pencapaiannya, jika saya terus menerus mengabaikan kegiatan tulis-menulis dari daftar kegiatan rutin saya. Maka, blog ini tentu saja akan saya manfaatkan sebagai salah satu media saya menulis. Mungkin akan ada isi tulisan yang tidak menarik bagi Anda. Tapi siapa tahu di lain waktu saya bisa menulis hal yang menarik bagi Anda.

Ah, ya, mungkin saja. Mungkin saya pun mulai melupakan rutinitas membaca, sehingga rasa enggan untuk menguntai kata terus saja bermunculan.

Ada amalan yang tidak terputus meski sang pelaku telah meninggal dunia: doa dari anak sholeh, amal jariyah, dan ilmu yang bermanfaat. Begitulah yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Tentu tulisan yang bermanfaat merupakan salah satu aplikasi dari ilmu yang bermanfaat. Jadi, Mengapa berhenti menulis?

Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang, bukan lagi "tidak ada waktu bagi saya untuk membaca", tetapi "akan ada waktu yang dapat saya gunakan untuk membaca. Dan bukan pula "saya sibuk, saya tidak sempat menulis", melainkan "saya sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, jadi kesibukan bukan masalah"