Monday, 10 August 2015

Mengurus Visa Belajar di Kedubes Jepang

Well, setelah sekian lama menanti, akhirnya CoE (Certificate of Eligibility) sudah di tangan. Saatnya mengurus visa...

Mengapa perlu menunggu CoE? Yup, karena ini adalah salah satu syarat untuk permohonan visa pelajar. Jadi kita belum bisa mengurus permohonan visa, jika berkas asli dari CoE ini belum kita terima. CoE merupakan dokumen yang dikeluarkan oleh kantor imigrasi di Jepang. Untuk pengurusannya ditangani oleh pihak kampus. Saya cukup mengisi formulir yang mereka kirimkan dan mengirimkan kembali formulir yang sudah dilengkapi. Pada pengalaman saya untuk pengurusan hingga mendapat lembar CoE ini butuh waktu sekitar 3 minggu. Waktu yang cukup untuk kita bisa mempersiapkan persyaratan lainnya untuk pengurusan visa belajar ini.

Saya ingin berbagi pengalaman saat mengurus visa belajar di Kedubes Jepang. Ya, saat mengurusnya saya merasakan berbagai kekhawatiran, sehingga saya pun mencari-cari cerita pengalaman orang lain dari beberapa blog. Berikut diantaranya:

https://farahfitriani.wordpress.com/2012/08/08/pengalaman-mengurus-visa-pelajar-ke-jepang/
http://razenamikaze.blogspot.com/2013_08_01_archive.html
https://safirsyifa.wordpress.com/2013/08/19/mengurus-visa-belajar-ke-jepang/

Untuk informasi permohonan visa secara umum dapat dilihat di sini.

Permohonan visa harus diajukan ke kantor kedubes/konjen yang sesuai dengan wilayah yurisdiksi (wilayah kerja) masing-masing. Karena paspor saya tercatat di wilayah Jawa Barat, maka saya harus mendatangi Bagian Konsuler Kedutaan Besar di Jakarta. Wilayah yurisdiksi masing-masing dapat dilihat di sini.

Lokasi Kedutaan Besar Jepang di Jakarta
Kedutaan Besar Jepang di Jakarta terletak di Jl. MH. Thamrin, Jakarta Pusat. Halte busway terdekat adalah Sarinah, dengan waktu tempuh berjalan kaki kurang lebih 5 menit ke arah bundaran HI.

Untuk permohonan visa, kita harus datang antara pukul 08.30 - 12.00 pada hari kerja (Senin-Jumat). Kantor akan tutup pada hari libur nasional dan hari libur kedutaan. Kalau hari libur nasional pasti kita sudah familiar. Jadi yang perlu diperhatikan adalah hari libur kedutaan. Jangan sampai sudah jauh-jauh datang ke kedutaan, namun ternyata libur.

Barang yang wajib dibawa adalah kartu identitas (KTP/SIM). Kartu ini akan ditukar dengan kartu tanda masuk kantor kedutaan yang akan ditukar kembali ketika keluar dari kantor kedutaan. Tentu dokumen yang dibutuhkan untuk permohonan visa pun harus dibawa lengkap.

Visa Belajar termasuk dalam kategori Visa Khusus. Berdasarkan web Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, dokumen-dokumen yang perlu dilengkapi dalam mengajukan permohonan visa ini adalah:
  1. Paspor asli
  2. Formulir permohonan visa. [download (PDF)] dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram)
  3. Fotokopi KTP (Surat Keterangan Domisili)
  4. Certificate of Eligibility (Asli dan fotokopi)
Berdasar pada pengalaman orang lain yang telah saya pelajari terlebih dahulu, segala bentuk fotokopi saya buat dalam kertas A4 (tidak dipotong).

Saat masuk ke dalam kantor kedutaan, kita akan diminta menyerahkan identitas diri yang ditukar dengan kartu pengunjung. Setelah itu kita akan melewati pemeriksaan barang-barang, seperti hendak masuk bandara. Kemudian kita menuju ruang tunggu dan mengambil nomor antrian. Perhatikan nomor antrian, jangan sampai terlewat. Setelah nomor kita dipanggil, kita akan menuju loket yang dimaksud untuk menyerahkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Apabila sudah lengkap, petugas akan memberitahukan kapan kita dapat mengambil visanya dan memberikan lembar bukti untuk pengambilan. Tidak ada kesulitan jika semua dokumen sudah lengkap. Biaya pembuatan visa dibayarkan pada saat pengambilan visa.

Untuk pengambilan visa, waktu yang ditentukan adalah pukul 13.30-15.00. Namun sebelum pintu kedubes dibuka pun sudah banyak yang mengantri. Antriannya pun akan mengular. Lumayan kalau harus mengantri di luar, dengan panasnya Jakarta.

Proses masuk ke kedubes tetap sama. Namun saat di loket, kita cukup memberikan lembar bukti untuk pengambilan visa. Setelah itu, petugas akan mengambil dokumen kita dan memberitahukan jumlah yang harus dibayarkan. Kemudian dengan membayar sejumlah biaya yang telah ditentukan maka visa sudah dapat dibawa pulang. Untuk beberapa kasus dari sejumlah kawan, ini bergantung pada beasiswa yang diperoleh, apakah meng-cover juga biaya pembuatan visa atau tidak. Karena pada kasus saya tidak di-cover, maka saya membayar sendiri biaya pembuatan visa tersebut. Jadi harap diperhatikan ya detail beasiswanya.

Semoga bermanfaat. 





Thursday, 25 June 2015

Trip to Japan - Part 0 - Berita Tak Terduga

Ini cerita di penghujung tahun 2013. 
Sudah terlalu lama berada di draft.
Akhirnya (terpaksa) diselesaikan juga.
============================

"Mba, mau ikut ke Jepang?"

Begitulah isi pesan singkat dari adik saya. Saat membacanya saya mengernyitkan kening. Sampai keriput-keriput kalau bisa. Apa maksudnya sih? Serius apa bercanda?

Setelah memikirkannya sejenak dengan alam pikiran yang melanglang jauh akhirnya saya putuskan, mau bercanda atau serius, jawaban saya hanya satu.

"Mau."

Mengapa tidak? Jepang adalah salah satu negara yang ingin sekali saya kunjungi.

Setibanya di rumah, saya langsung mengklarifikasi pesan tersebut. Ternyata adik saya memenangkan undian yang diadakan oleh Lawson dengan hadiah perjalanan ke Gunung Fuji, Yamanashi. Informasi kemenangan ini berupa telepon ke rumah yang kemudian dilanjutkan dengan surat menyurat melalui surel.

Masih tidak dapat dipercaya. Kami belum bisa sepenuhnya senang hati. Hingga tiba hari dimana para pemenang dikumpulkan untuk menerima hadiah tersebut secara simbolis. Acaranya diadakan di Mandarin Hotel, Jakarta Pusat (16 Oktober 2013). Ini bukan mimpi atau tipuan belaka. Bahkan Gubernur Yamanshi datang langsung untuk menyelamati para pemenang, ditemani perwakilan dari PT Midi Utama Indonesia Tbk dan Garuda Indonesia. Dengan ini kami yakin, insya Allah kami akan dapat menginjakkan kaki di negeri sakura.

Ucapan selamat bagi para pemenang undian Lawson

*Berita lengkapnya dapat dibaca di sini.

Sunday, 7 December 2014

Is it only laboratory activity?

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Well, my college life was end two years ago. It should be the one of memorable part of life. Meeting new people with the different cultures, doing many new activities, joining the student club, and so on.

In the third year of my study in college, laboratory activity dominated my time. In each semester, we should take two subject with laboratory activity. Each subject may have at least four sections. In each section, we have to do the preliminary task before doing practicum. It was not as easy as said, there was a bunch of problem that should be solved within 24-hours, yeah, only 24-hours. Oftentimes my classmate missed the class for finishing it.That was not a good way for facing it. But it was hard to choose, entering the class or finishing the task. You can not join the practicum if you don't finish the task, but the material that was taught in the class is also important. In this way, I realized that doing some thing effectively and efficiently is obligatory.

Before we started the practicum, we got some questions from laboratory assistants. All of the question was related to the practicum. If we fail to answer the questions, the assistants would ask another question until we can answer it or give us time for extra study, but the worst case is not to allow us to do practicum in that section and we have to come again in the next schedule. It was one of the reasons why laboratory activity dominated my time. If you failed once, you should allocate the extra time for the practicum. It was make me study more and more instead of fail to join the practicum.

Some of laboratory activities in my major are dangerous things. We generated electricity with high voltage or high current. In other activities, we run the electric motor that the size is bigger than water gallon. So we should do the practicum carefully. The preliminary tasks and questions are to ensure that we capable to do the practicum or not.

Finally, laboratory activity sounds like scary. But I don't think in that way. There are many interesting thing there. Unbelievable, in the practicum, I can recognize if the motor speed reach 1500 rpm just by hearing the sound (but I can't do it now ^^, how poor am I..). Another interesting thing is to see the electric spark just looks like lightning.

So, is it only laboratory activity?

How about you, Susi, Sidik, Derip? I also want hear your stories..


'This post is my entry for 'My College Diary' contest held by travel blog My Yatra Diary in collaboration with Collegedunia.com' 

Saturday, 13 September 2014

Action in Japan Tourism Performance at Garuda Indonesia Travel Fair

12 September 2014. Hari ini saya beserta adik saya diminta bantuan untuk tampil dalam Japan Tourism Performance pada panggung utama Garuda Indonesia Travel Fair. Tentu saja kami menjadi bagian dari penampilan ini dengan tujuan dan maksud tertentu. Tahun lalu, adik saya menjadi salah satu dari tiga pemenang undian perjalanan ke Gunung Fuji, Yamanashi yang diadakan oleh Lawson bekerja sama dengan Garuda Indonesia dan Pemerintah Prefektur Yamanashi. Saya sebagai pihak terajak tentu memiliki pengalaman yang sama dalam perjalanan tersebut. Oleh karena itu, kami mewakili pemenang lainnya diminta untuk menceritakan pengalaman kami sewaktu perjalanan ke Gunung Fuji tahun lalu sekaligus membantu mempromosikan promo baru dari Lawson.

Boarding Pass untuk Garuda Indonesia Travel Fair

Seminggu sebelumnya saya mendapat pengarahan langsung dari staff pemda Yamanashi via telepon. Sungguh merupakan kesempatan langka untuk mendapat panggilan telepon internasional. (Padahal staff pemda yang menelepon adalah orang Indonesia yang bekerja di sana. Jadi semua beres dilakukan dalam bahasa Indonesia. Hehehe..) Setelah itu, beliau mengirimkan naskah dan presentasi yang akan digunakan pada hari-H nanti. Skenario yang tidak terlalu sulit. Cukup bercerita pengalaman, menjelaskan event promo, dan berusaha bersifat mengajak pada penonton.

Kembali pada hari-H. Sebelum mentas, kami mendapat pengarahan terlebih dahulu dari orang pemda Yamanashi (yang ini asli orang Jepang, jadi kami dibantu penerjemah). Karena sebelumnya sudah mendapat pengarahan terlebih dahulu, kami tidak terlalu bingung untuk menangkap maksudnya. 

Naskah yang diberikan pada briefing sebelum pentas
(ya pak, mana saya bisa baca, hehe.. tapi berkat pak penerjemah, saya tahu maksud tiap poinnya)
Selain kami, sebagai perwakilan dari pemenang promo Lawson tahun lalu, ada empat orang lainnya yang tampil di penampilan ini. Yang pertama adalah mas MC (saya lupa menanyakan namanya). Lalu ada Yumi, penyanyi yang sedang memulai debutnya di Jepang. Yumi ini orang Indonesia loh, dari Bandung (malah). Dia menyanyikan dua buah lagunya untuk mengawali pentas kami. Setelah itu orang pemda Yamanashi, ditemani seorang penerjemah, melanjutkan penampilan kami dengan penjelasan tentang promo Lawson ini. Lalu kami meneruskan dengan menceritakan pengalaman kami selama perjalanan tahun lalu. Kemudian pentas kami ditutup dengan penjelasan mengenai pesona Yamanashi oleh mas MC dan Yumi.

Yumi, saya, mas MC, dan adik saya
(urutan dari kiri ke kanan)
Ya, semoga bisa kembali terbang bersama Garuda Indonesia ke Jepang~

Untuk kalian yang tertarik dengan promo ini, caranya mudah kok,

Pertama, belanja di Lawson minimal Rp 25.000,- dan di dalamnya termasuk 1 produk original Lawson (seperti Oden, Onigiri, Bento, In Store Cooking, Fride Foods, dll).

Kedua, tweet kode struk beserta alasan kalian ikutan promo ini.

Ketiga, sertakan hashtag #LawsonGoestoJapan di tweet kalian.

Pastikan akun kalian dapa dilihat oleh publik ya..

Promo ini berlangsung pada 16 September 2014 sampai akhir Oktober 2014. Silakan ikut, dan raih kesempatan untuk terbang ke Jepang bersama Garuda Indonesia dan melihat secara langsung gunung Fuji di Januari 2015!

Ayo ikutan!

Wednesday, 21 May 2014

Membuat Cilok Sendiri

Cilok memang jajanan favorit saya. Ada dua yang sangat saya suka: 1) Cilok goreng di depan Salman, yang hanya berjualan di sana pada hari Jumat saja. 2) Cilok kukus yang lewat depan rumah kalau hari Minggu. Hal utama yang menjadikan cilok sebagai jajanan favorit adalah bumbu kacangnya.

Penasaran, ingin membuat cilok sendiri di rumah, mudah saja. Resep ini sudah saya coba dan hasilnya menggiurkan. Silakan bagi yang ingin mencoba juga.

Bahan:
- Tepung kanji    150 gram
- Tepung terigu  150 gram
- Bawang putih   2 siung, dihaluskan
- Bawang daun   1 batang, cincang halus
- Merica bubuk    1 sdt
- Kaldu bubuk     1 sdt
- Garam             1 sdt
- Air                  1,5 gelas belimbing

Bahan tambahan (jika dihendaki):
- sosis/baso potong dadu kecil

Cara membuat:
1. Campur tepung kanji, tepung terigu, bawang putih, dan bawang daun menjadi satu.
2. Didihkan air, lalu masukkan merica bubuk, kaldu bubuk, dan garam.
3. Tuangkan air kaldu yang telah dididihkan sedikit demi sedikit ke dalam campuran tepung.
4. Uleni hingga adonan dapat dibentuk.
5. Bentuk adonan bulat-bulat. (Dapat diberi isian sosis/baso didalamnya)
6. Didihkan air untuk merebus. Kemudian rebus cilok yang telah dibentuk. Angkat jika sudah mulai mengambang. (Tips: Gunakan panci yang agak tinggi agar dapat membedakan mana cilok yang sudah matang, mana yang belum)
7. Setelah ditiriskan, cilok dapat dikukus atau digoreng sesuai selera.

Selamat mencoba!

Cilok siap santap :9


Friday, 29 March 2013

My Personality Type : The Dreamy Idealist

Tipe Idealis Pemimpi,
  • Sangat berhati-hati.
  • Tampak pemalu dan pendiam bagi orang lain. 
  • Berbagi kehidupan emosional serta pendapat-pendapat kuat dengan sedikit sekali orang. 
  • Memiliki sistem nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang murni dan mulia yang menonjol yang demi hal-hal itu mereka bersedia mengorbankan banyak hal. 
  • Selalu berusaha keras memperbaiki dunia. 
  • Dapat sangat memikirkan orang lain dan melakukan banyak hal untuk mendukung dan membela mereka. 
  • Tertarik dengan sesama, penuh perhatian dan murah hati terhadap mereka. 
  • Begitu antusiasme akan suatu hal atau orang bangkit, mereka dapat menjadi pejuang yang tak kenal lelah.

Bagi tipe Idealis Pemimpi, 
  • Hal-hal praktis tidak benar-benar penting. 
  • Hanya menyibukkan diri dengan tuntutan-tuntutan harian yang duniawi saat benar-benar perlu. 
  • Cenderung hidup sesuai dengan semboyan “the genius controls the chaos” – sehingga biasanya memiliki karir akademik yang gemilang. 
  • Kurang tertarik dengan detail.
  • Lebih suka melihat sesuatu secara keseluruhan, artinya masih memiliki pandangan menyeluruh yang baik ketika sesuatu mulai menjadi rumit. 
  • Sesekali dapat melewatkan sesuatu yang penting. 
  • Cenderung tidak terang-terangan menunjukkan ketidakpuasan atau kejengkelan melainkan memendamnya, karena mereka menyukai kedamaian.
  • Ketegasan bukan salah satu kekuatan mereka. 
  • Membenci konflik dan persaingan. 
  • Lebih suka memotivasi orang lain dengan sifat ramah dan antusias. 

Di lingkungan kerja,
  • Merupakan teman dan pasangan yang suka menolong dan setia.
  • Memiliki integritas. 
  • Kewajiban menjadi hal yang sangat sakral. 
  • Perasaan orang lain penting bagi mereka.
  • Senang membuat orang lain bahagia. 
  • Mereka puas hanya dengan lingkaran kecil pertemanan; 
  • Kebutuhan akan kontak sosial tidak begitu menonjol karena butuh banyak waktu untuk diri sendiri. 
  • Tidak ahli berbasa-basi. 
  • Jika seseorang berharap berteman dengan mereka atau memiliki hubungan dengan mereka, orang itu harus mau berbagi dunia pemikiran mereka dan bersedia berpartisipasi dalam perbincangan mendalam. Jika Anda berhasil melakukan itu Anda akan dianugerahi dengan kemitraan yang luar biasa intensif dan kaya. 
  • Barangsiapa mendapatkan mereka sebagai atasan tidak akan pernah mengeluh kekurangan pujian.
  • Karena tuntutan-tuntutan mereka yang tinggi terhadap diri sendiri dan orang lain, tipe kepribadian ini kadang-kadang menjejali hubungan dengan gagasan-gagasan romantis dan idealis hingga tingkat tertentu sehingga membuat pasangan merasa terbebani atau minder. 
  • Tidak jatuh cinta dengan mabuk kepayang namun ketika jatuh cinta mereka menginginkannya menjadi cinta sejati yang tak berkesudahan.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini
  • introvert, 
  • teoritis, 
  • emosional, 
  • spontan, 
  • idealis, 
  • pemimpi, 
  • emosional, 
  • menyenangkan, 
  • pendiam, 
  • ramah, 
  • bergairah, 
  • setia, 
  • perfeksionis, 
  • senang membantu, 
  • kreatif, 
  • sabar, 
  • penuh rasa ingin tahu, 
  • keras kepala, 
  • integritas, 
  • bersedia berkorban, 
  • romantis, 
  • hati-hati, 
  • pemalu, 
  • cinta kedamaian, 
  • rentan saat dikritik, 
  • sensitif, 
  • komunikatif,
  • imajinatif.

Bidang ini bisa menarik minat seseorang bertipe Idealis Pemimpi
  • sastra, 
  • filsafat, 
  • psikologi, 
  • musik, 
  • seni (museum), 
  • menulis, 
  • menggambar / melukis, 
  • astrologi, 
  • hal spiritual, 
  • meditasi, 
  • kerajinan (handicrafts), 
  • relawan

Hampir keseluruhan penggambaran tipe ini cocok dengan saya yang sekarang. Ya, entah untuk satu, lima, atau sepuluh tahun mendatang. Masih kah seperti ini atau tidak.

Hal yang penting untuk saya lakukan adalah memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi dampak dari kekurangan yang ada.

Barangkali ada yang mau mencoba tes nya juga, bisa dicoba di sini.

Thursday, 28 March 2013

Boy!

"Bro" merupakan kata sapaan yang sering terdengar sebagai kependekan dari "brother". Dari bahasa asalnya (bahasa inggris) kata "brother" berarti saudara laki-laki, sehingga sapaan ini umum ditujukan untuk kawan laki-laki yang sudah seperti saudara sendiri atau dianggap sebagai saudara karena akrabnya. Lalu bagaimana untuk kawan yang perempuan? Sapaan yang dikenal adalah "sist" sebagai kependekan dari "sister". Sehingga cukup akrab di telinga sapaan "bro & sist".

Boy!

Lalu bagaimana dengan kata "boy" ini? "Boy" merupakan kata dalam bahasa inggris yang berarti anak laki-laki.  Entah, apakah di daerah asalnya, kata ini dipakai untuk menyapa anak laki-laki atau tidak. Hal yang pasti adalah kata "boy" sudah menjadi kata sapaan akrab untuk saling menyapa mahasiswa satu jurusan saya (yang dominan memang laki-laki). Hmm, saya merasa dibanding mengatakan, "Eh, Kamu!" memang lebih enak terdengar, "Eh, Boy!" (tapi tidak dengan nada lemah lembut ya..)

Jadi, apa masalahnya? Kebiasaan ini ternyata terbawa sampai keluar wilayah jurusan. Ya, tanpa disadari, saya jadi lebih nyaman menyapa orang lain dengan kata "boy" ini, entah dia laki-laki atau pun perempuan. Tidak mengherankan jika ada orang yang terhenti sesaat/sedikit memincingkan mata/agak bertanya-tanya - terutama perempuan - ketika saya secara spontan menggunakan kata "boy" ini sebagai sapaan. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan kata sapaan ini. 

Bahasa bisa berkembang kok. Dalam kasus ini anggap saja ada perluasan makna (ini hanya alasan penulis saja, tidak perlu ditanggapi serius).