Friday, 4 March 2011

Medali dari Bali

Orang bilang, paling mudah mencari rekan ya dengan orang yang sudah dikenal dan mengenal kita. Barangkali pepatah inilah yang mendorongnya mengajak saya bergabung dalam tim untuk ikut serta di Program Kreatifitas Mahasiswa 2010 yang diselenggarakan oleh Dikti. Dia adalah kakak tingkat di jurusan. Dia juga menerima beastudi berasrama, sama seperti saya. Eits, tentu tidak satu asrama karena beastudi ini menyediakan asrama bagi putra dan putri secara terpisah. Namun kegiatan yang diselenggarakan seringkali merupakan kegiatan global sehingga diikuti oleh penghuni kedua asrama. Ya, mungkin karena relasi itu dia mengajak saya menggenapkan timnya.

Tanpa menghabiskan tenaga untuk berpikir panjang, saya menyanggupi untuk bergabung. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu hanyalah saya sedang disodori kesempatan untuk mengikuti suatu kompetisi, jadi mengapa tidak dimanfaatkan. Hari perekrutan pun berlalu tanpa sempat saya bertanya-tanya lebih jauh mengenai kompetisi itu dan anggota tim yang lain.

Dalam pengajuan proposal, saya tidak banyak membantu, bahkan tepatnya tidak membantu apapun. Anggota macam apa saya ini. Tapi apa mau dikata, memang itulah yang terjadi waktu itu. Karena waktu pengumpulan terlampau dekat dan tidak ada kesempatan saya ikut berkumpul bersama mereka. Nasib jadi satu-satunya perempuan dalam tim memang begini. (Mungkin) Mereka hanya punya waktu berkumpul larut malam, saya jadi hanya bisa berdiam diri saja.

Detik-detik begitu cepat berlalu. Hari berganti hari. Tibalah saat pengumuman proposal yang akan didanai. Sebagai pihak yang tidak berkontribusi apapun pada pengajuan proposal, saya tidak bisa menaruh perasaan cemas ataupun tidak peduli. Yang saya harapkan hanyalah suatu kejelasan, lolos atau tidak.

Ternyata proposal kami masuk dalam daftar yang akan didanai. Ketika itu saya malah jadi bingung, haruskah saya merasa senang atau bagaimana karena saya teringat akan topik proposal yang tim kami ajukan. Ya, saya mengetahui topik itu bahkan jauh setelah hari perekrutan itu. Tidak baik rasanya jika saya mundur dari keanggotaan hanya karena topik itu. Memang, langkah yang saya ambil saat setuju untuk turut bergabung adalah langkah yang tidak dipikirkan secara jauh, bahkan tidak ada perhitungan apapun saat pengambilan keputusan itu. Tapi kini saya tidak menyesali tindakan ceroboh saya waktu itu. Karena di sanalah semua itu bermula.

Pendanaan proposal berangsur-angsur cair. Tanggung jawab untuk menjalankan proposal semakin besar. Meski menyadari itu, gairah saya tidak terlalu besar dalam menjalankannya. Itu memang mulanya. Mungkin karena energi aktivasinya yang terlampau besar. Namun tenggat waktu yang semakin mendekat memaksa kami semua, terutama saya, untuk lebih serius dalam menjalankannya.

Berbekal sedikit pengetahuan praktis mengenai rangkaian elektronika, saya turut mengoprek rangkaian dari alat kami. (Maklum, sejauh ini yang saya pelajari baru sekedar teori di atas kertas saja). Dengan agak sok tahu, saya pun memberi komentar di sana-sini. Tentu itu semua saya lakukan untuk memberi kontribusi terbaik yang bisa saya berikan. Beberapa kali, kami berkonsultasi dengan dosen pembimbing berkenaan dengan rangkaian yang kami buat.

Hingga waktu monitoring dan evaluasi tiba (yaitu sekitar satu bulan sebelum penilaian akhir) alat yang kami buat masih jauh dari kata selesai. Memang secara sederhana alat kami sudah berfungsi, namun masih belum sesuai dengan tujuan dari proposal kami. Berbekal dengan casing yang dibuat secara dadakan, kami pun bersiap menghadap juri dalam monitoring dan evaluasi itu.

Komentar yang paling saya ingat dari juri saat monev adalah “Bagus ya alatnya sudah dapat berfungsi, tapi kok penampilannya serem sekali ya? Apa iya ada yang mau pakai kalau tampilannya seperti itu? Jangan-jangan malah takut duluan lagi. Gimana?” Saya merasa sangat gugup ditodong dengan pertanyaan seperti itu. Apalagi desain casing adalah buatan saya, jadi seakan-akan semua itu adalah tanggung jawab saya. Beruntung memiliki rekan satu tim seperti mereka. Bukan melimpahkan pertanyaan tersebut pada saya sebagai sang pembuat desain, tapi justru berusaha memberikan penjelasan bahwa ini baru tahap percobaan, masih akan terus dikembangkan, begitu pula soal casing-nya.

Melihat tim lain melakukan presentasi saat monitoring dan evaluasi, saya merasa nyali saya menciut. Progress mereka tampak lebih baik. Performanya pun begitu meyakinkan. Tidak ada hal yang bisa saya banggakan. Saya hanya bisa berharap hasil akhir nanti memang yang terbaik bagi tim kami.

Setelah melalui monitoring dan evaluasi, pekerjaan kami tidak selesai sampai di situ, masih banyak hal yang harus dibenahi, terutama dari segi kegunaan alat dan pengemasan. Perjuangan di hari-hari terakhir begitu berkesan. Segala bentuk emosi tertumpah di sini. Semangat. Marah. Kesal. Penasaran. Semuanya bercampur aduk. Hanya ada satu hal yang tidak ada dalam diri saya waktu itu (entah untuk anggota tim yang lain), yaitu ambisi. Ya, dalam pengerjaan pelaksanaan proposal itu saya sama sekali tidak memiliki ambisi apa pun. Tidak untuk menjadi pemenang atau apa pun. Yang terpikirkan hanyalah bagaimana semua ini harus segera berakhir.

Akhirnya laporan akhir pun dikirimkan. Meski saat itu kerja sama dengan mitra belum terlaksana benar. Ya, saya lupa mengatakan bahwa PKM yang kami ikuti adalah PKM bidang Penerapan Teknologi yang keberjalanannya harus bekerja sama dengan mitra. Jarak kami dengan tempat mitra memang menjadi sedikit kendala. Tempat mitra berada memang terlampau jauh, sehingga kami tidak bisa sering-sering berkunjung ke sana.

Berita yang mengejutkan saya baca dari sebuah pesan singkat yang saya terima. Meski tidak mengharapkannya, ternyata saya merasa senang memiliki kesempatan untuk menginjakkan kaki di pulau dewata, tempat PIMNAS XXIII di laksanakan. Ya, tim kami lolos ke tahap akhir yang bergengsi ini. Dengan ini, pekerjaan kami jadi belum selesai. Kami jadi harus mempercepat waktu kunjungan kami ke tempat mitra untuk serah terima alat, juga mempersiapkan presentasi dan poster untuk dipamerkan.

Hari keberangkatan kami begitu dekat, akhirnya kami memutuskan untuk membagi-bagi tugas. Para pria pergi ke tempat mitra untuk menyelesaikan hubungan kerja sama, sedangkan saya tetap berdiam di Bandung untuk menyelesaikan pembuatan poster dan presentasi.

Pembagian yang baik, apalagi setelah tahu, di tempat mitra mereka (para laki-laki) bepergian hanya dengan satu motor untuk tiga orang karena tidak ada lagi kendaraan. Kalau saya ikut, tidak tahulah apa jadinya.

Keberangkatan saya ke Bali adalah suatu pengalaman yang begitu berkesan, selain berkesempatan mengikuti ajang kompetisi tingkat nasional, saya pun dapat pengalaman pertama menjadi penumpang pesawat terbang. Rasanya begitu menyenangkan. Apalagi mendapat teman-teman seperjalanan yang begitu ramah. Kebersamaan kami yang hanya lima hari saja dapat membuat kami lebih mengenal satu sama lain.


Pesawat yang telah mengantarkan kami ke Pulau Dewata
(Lokasi : Bandara Ngurah Rai, Bali)

Bersama Maskot PIMNAS XXIII

Berkumpulnya peserta dari berbagai daerah pun ternyata menjadi kesempatan bagi saya untuk berkumpul dengan sesama penerima beastudi. Kami yang berasal dari kota yang berbeda merasa dipersaudarakan dengan beastudi ini. Sehingga pertemuan kami di sana begitu membahagiakan. Rasanya senang sekaligus bangga memiliki rekan seperjuangan seperti mereka. Latar belakang kami yang tidak jauh berbeda menjadikan kami bisa saling memahami dan memberikan dorongan.

Tibalah saat presentasi. Kami dikelompokkan berdasarkan bidang, lalu dibagi menjadi tiga atau empat kelas. Jadilah dalam satu kelas terdiri dari sekitar dua puluh tim yang akan mempresentasikan jerih payahnya.

Hari pertama presentasi. Persiapan yang minim dan briefing singkat yang kami lakukan saat jeda istirahat siang ternyata modal kami presentasi di sore harinya. Segalanya begitu mendadak, bahkan kami belum sempat latihan satu kali pun, karena ternyata sebelum istirahat sore, nomor tim kami terpanggil untuk melakukan presentasi. Tidak ada kuasa untuk menolak, semua itu hanya bergantung dari hasil kocokan saja. Apa boleh buat, kami harus maju, berbekal persiapan seperti apa pun.

Pembukaan. Yang saya ingat hanyalah jawaban dari salah seorang kakak tingkat dari tim lain saat saya bertanya padanya, kata-kata apa yang bagus ya untuk pembukaan presentasi kami. Karena itu, jawabannyalah yang terlontar dari bibir saya.

“Apakah ada hadirin di sini yang belum disunat?”

Spontan suara penonton menjadi riuh rendah. Semua orang berebut memberi komentar dan berbisik pada teman-teman yang duduk di dekatnya. Kontan saya pun jadi bingung, hendak meneruskan seperti apa. Semenit kemudian saya berhasil menguasai diri saya dan mulai berbicara layaknya sales yang menawarkan barang dagangannya. Nampak dari mata penonton tatapan-tatapan penasaran. Sungguh, itu sangat membuat gugup saya bertambah-tambah. Di saat saya kebingungan harus mengatakan apalagi, rekan saya langsung mengambil alih posisi presenter.

“Ya, sepertinya akan lebih enak kalau saya yang menjelaskan, daripada memaksa rekan wanita saya ini, karena ini urusan yang agak sensitif,” begitulah kurang lebih pembelaan rekan saya.

Suara penonton kembali bergemuruh. Setelah bertukar posisi, saya pun berusaha menenangkan diri.

Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa disadari lampu kuning sudah menyala, artinya waktu yang tersisa hanya dua menit lagi, tapi saya memprediksi presentasi kami tidak bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang tersisa. Benar saja, presentasi kami berakhir tanpa sempat mengucapkan kata-kata penutup karena lampu merah terlanjur menyala, dan bel tanda berakhirnya jatah waktu presentasi sudah berbunyi. Saya hanya bisa menyalahkan diri saya yang terlalu berlama-lama di bagian pembuka.

Tapi semua itu sudah berlalu. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan untuk merubahnya. Yang bisa dilakukan saat itu hanyalah berdoa.

Malam itu pun saya lalui dengan melihat rekan kami dari tim lain yang sedang gigih berlatih untuk presentasi. Ada satu hal yang saya syukuri saat itu. Presentasi sudah kami lalui, sehingga malam itu kami bisa agak bersantai. Ya sedikit menikmati malam di pulau dewata.

Yang tersisa adalah pameran poster.

Pameran poster diadakan di sebuah GOR tidak jauh dari kampus tempat PIMNAS dilaksanakan. Ruangannya begitu padat, sehingga ketika tempat pameran dibuka, semua orang berjalan berdesak-desakan di dalamnya. Tidak ada persiapan yang istimewa untuk pameran poster ini, kami beranggapan hanya poster saja yang dipamerkan (maklum, pengalaman pertama). Ternyata pameran poster lebih heboh dari yang saya bayangkan. Alhasil stand kami berdiri dengan begitu sederhana.

Saat yang dinantikan pun tiba. Pengumuman pemenang dilaksanakan di Art Center, tempat yang sama saat kedatangan para peserta disambut dalam Welcome Party. Ribuan orang berkumpul di sana. Suasana begitu menegangkan. Meski tidak berambisi menjadi pemenang, dalam hati kecil tetap saja berharap mendapat sesuatu di sini, yah, minimal juara favorit lah.

Akhirnya, satu persatu pemenang per kategori disebutkan. Awalnya adalah pemenang dari pameran poster. Sayang, poster kami tidak berhasil meraih juara apapun. Suara riuh rendah peserta saat institusinya disebut, begitu meramaikan Art Center malam itu. Lalu berlanjut pada pengumuman pemenang dari kategori presentasi. Sama halnya dengan pameran poster, pengumuman pemenangnya diurut berdasarkan kategorinya. Tim dari ITB memang hanya sedikit, namun tidak sedikit yang membawa pulang medali kemenangan.

Setiap kali tim dari ITB disebut sebagai pemenang, kami yang jumlahnya bahkan tidak sampai 50 orang itu serentak berdiri dan memberikan salam Ganesha terbaik kami. Rasanya bangga sekali bisa meneriakkan salam kebanggaan di hadapan orang-orang yang berasal dari berbagai daerah itu. Ya, setiap kali memang, kecuali saat tim saya yang dipanggil. Tampaknya saat itu hanya satu rekan saya yang menyadari bahwa kami dipanggil sebagai peraih medali setara perak karena tidak ada satupun dari kami yang berdiri untuk bersiap mengumandangkan salam Ganesha. Yang terdengar hanyalah jeritan kaget dari rekan saya itu, barulah kami semua tersadar, dan tentu saja sudah terlambat untuk memberikan salam Ganesha karena pengumuman sudah berlanjut untuk menyebut nama-nama yang lain. Sayang sekali.

Ketua kelompok menerima piala serta medali
Piala yang berhasil kami bawa pulang

Dari total 6 tim yang lolos ke PIMNAS, ITB mampu memperoleh 4 medali dengan rincian 2 medali emas presentasi, 1 medali perak presentasi dan 1 medali perunggu poster.

Ya, setidaknya kami bisa menyumbang satu dari empat medali itu. Sungguh berkesan, medali dari Bali.

Thursday, 3 March 2011

Freedom to Choose

Ketika dihadapkan pada sesuatu, seseorang akan, secara sadar ataupun tidak, menerapkan kebebasan membuat pilihan – Freedom to Choose. Apakah menerima, menyetujui, atau malah mempertanyakan. Seseorang dapat pula mengesampingkan suatu bagian tertentu sehingga tidak melihatnya secara keseluruhan. Freedom to Choose adalah hak setiap orang. Meski dikatakan sebagai kebebasan, bisa saja menerima suatu paksaan adalah juga suatu pilihan.

Anda membaca posting di blog ini pun adalah sebuah pilihan. Respon apapun yang Anda buat ketika membaca blog ini juga suatu pilihan.

So, please feel free to read it and leave comments here..

Saturday, 26 February 2011

Berani Masuk ITB - 2011

Berikut ada amanah untuk menyampaikan info kepada adik-adik yang hendak masuk ITB.

Dulu pun saya tidak berani masuk ITB lewat jalur USM karena biaya yang kelewat mahal. Tapi berkat info dari seorang teman, saya pun memberanikan diri untuk mencoba. Hasilnya saya diterima di ITB dengan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk SDPA (Sumbangan Dana Pengembangan Akademik) yang berpuluh-puluh juta itu, bahkan hingga kini biaya semesteran pun tidak perlu saya pusingkan lagi (tentu dengan syarat pendidikan di sini ditempuh dalam empat tahun, amin).


~jangan takut sebelum mencoba~
______________________________________
______________________________________

Mohon dishare ke adik agan2 sekalian agar mereka bisa mendapat Info ini dan berani masuk Itebe khususnya bagi yang kurang beruntung ekonominya...
Biaya masuk ITB 2011 & Tips Bayar Murah kuliah di ITB

Pertama-tama, tolong dibaca secara lengkap, biar info yang didapat tidak parsial.
Hatur nuhun :)
__________________________________________

Pertanyaan pertama : gimana caranya masuk ITB? berapa biaya pendaftaran ujiannya?

1. Daftar secara online di http://www.snmptn.ac.id/

2. Mengenai pembayaran, jumlahnya sbb (salah satunya saja, sesuai program studi yang ingin dipilih):

• Kelompok IPA dan IPS : Rp. 150.000,- (dapat memilih maksimum 2 program studi)
• Kelompok IPC : Rp. 175.000,- (dapat memilih maksimum 3 program studi)
• Ujian Keterampilan : Rp. 150.000,- (khusus Fakultas Seni Rupa & Desain)

3. Jenis Ujian SNMPTN 2011 – Jalur Ujian Tulis :

• Tes Potensi Akademik (TPA) .
• Tes Bidang Studi Prediktif (TBSP) :
• Tes Bidang Studi Dasar : Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
• Tes Bidang Studi IPA : Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika.
• Tes Bidang Studi IPS : Sosiologi, Sejarah, Geografi, dan Ekonomi.
• Khusus bagi peminat FSRD , diharuskan untuk mengikuti Ujian Keterampilan yang dilaksanakan dua hari setelah pelaksanaan ujian tertulis. Peserta Ujian Keterampilan dapat mengikuti ujian di PTN yang memiliki program studi yang mempersyaratkan Ujian Keterampilan atau PTN terdekat dari tempat pendaftaran peserta yang memiliki program studi yang mempersyaratkan Ujian Keterampilan sesuai dengan pilihan peserta.

jawaban selengkapnya ada di link berikut : http://www.itb.ac.id/usm-itb/nas-t-3.htm (tentang tata cara pendaftaran) dan link http://www.itb.ac.id/usm-itb/nas-t-2.htm (tentang persyaratan peserta).

__________________________________________

berapa sih biaya masuk ITB tahun 2011?
berapa sih biaya total belajar di sana nantinya?


Jadi, biaya pendidikan di ITB ada dua:

1. Biaya pendidikan di muka (BPM). dibayar satu kali di awal masuk ITB. Besarnya maksimal Rp55.000.000 (ada diskonnya juga lho. makanya baca sampai akhir ya)
2. Biaya pendidikan per semester (BPP). dibayar setiap awal semester kuliah. Besarnya Rp5.000.000/semester.

__________________________________________

Waduh, kok mahal banget ya biayanya?
ada ga caranya biar bisa bayar murah ?


Hoho,, tentu ada sodara-sodara. Begini, ikutin tipsnya ya:

Ternyata kita bisa meminta diskon Biaya BPM yang 55juta itu, bahkan tersedia diskon 100% bagi lebih dari 600 orang. Begini caranya:

1. Download dan isi formulir permohonan diskon BPM di [ link ini ] atau di sini : http://www.itb.ac.id/usm-itb/form-bpm-2011-t.pdf

2. Pada bagian permohonan subsidi, jangan lupa centang/pilih yang 25%, 50%, 75%, atau yang 100%

3. kirim formulirnya. Boleh lewat fax, email, atau pos, ke alamat:

Loket Direktorat Pendidikan ITB
Gd. CCAR ITB lt. 1
Jl. Tamansari no. 64 Bandung 40116
Telp.: 022-2508519, 022-4254016
Faks.: 022-2508519
E-mail : usmitb@pusat.itb.ac.id

3. Siapkan bukti-bukti yang mendukung. Bukti-bukti ini diserahkan saat pendaftaran mahasiswa baru nanti (setelah pasti diterima). Misalnya:
- Slip gaji orang tua (kalau ada. kalau ga ada bikin sendiri aja, tulis aja gaji yang kecil. hehe,, tapi jangan boong yak )
- Surat keterangan RT/RW daerah asal. Jadi berupa keterangan kalau keluarga tidak mampu membayar banyak untuk masuk ITB.
- Surat keterangan kondisi keluarga. Misalnya jumlah keluarga dan kondisi pekerjaannya. Lebih direkomendasikan bagi anda yang punya banyak adik-adik yang masih sekolah, jadi terlihat kalau tanggungan beban orang tua itu besar sekali, hoho ;) .

4. Spesial: Bagi calon mahasiswa yang sejak awal hanya berminat untuk memilih Program Studi Astronomi (FMIPA), Program Studi Meteorologi (FITB), dan/atau Program Studi Oseanografi (FITB) dapat mengajukan permohonan Beasiswa Minat berupa subsidi 100% BPM. Untuk itu pemohon harus menyerahkan Formulir Pilihan Program Studi ITB yang dapat diunduh dari situs http://www.itb.ac.id/usm-itb/form-prodi-2011.pdf paling lambat tanggal 24 Mei 2011, pukul 15.30 WIB. Formulir yang telah diisi lengkap dikirimkan melalui kantor pos, faksimili, e-mail , atau diserahkan sendiri ke alamat:

Loket Direktorat Pendidikan ITB
Gd. CCAR ITB lt. 1
Jl. Tamansari no. 64 Bandung 40116
Telp.: 022-2508519, 022-4254016
Faks.: 022-2508519
E-mail : usmitb@pusat.itb.ac.id

5. Kalau BPM sudah "beres", maka tinggal mencari beasiswa untuk membayar BPP. Di sini banyak tersedia beasiswa, misalnya beasiswa ITB untuk semua (BIUS http://www.itbuntuksemua.com ).

6. Jangan lupa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan rejeki lebih biar bisa kuliah di ITB. Syukur-syukur kalo ga perlu minta diskon biar masuk kampus itu, apalagi kalau bisa memberikan sebagian rezeki kita buat meringankan beban yang lain. InsyaAllah pahala lho :)

_____________________________ Info lebih lanjut?


- buka situs ini: http://www.itb.ac.id/usm-itb/nas-t-4.htm

- komen aja di mari. atau

- Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi :



Kantor Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan
Direktorat Pendidikan ITB
u.p. Kasubdit Penjaringan Mahasiswa
Gd. CCAR ITB lt.4, Jl. Tamansari 64 Bandung
Telepon : 022-4254016
Telepon : 022-61083601
Faksimili : 022-2508519
E-mail : usmitb@pusat.itb.ac.id

Wednesday, 26 January 2011

Energi (Daya) Elektrik Perlu Dikonversi, Kenapa?

Ada dua hal yang menjadi alasan utama mengapa energi (daya) elektrik perlu dikonversi.

Pertama, hampir semua peralatan elektronik tidak dapat bekerja secara efisien pada sumber energi (daya) elektrik yang tersedia.

Laptop misalnya, peralatan ini bekerja pada tegangan arus searah dengan harga tegangan yang rendah, padahal harga tegangan pada jala-jala jauh lebih tinggi dan memiliki bentuk tegangan arus bolak-balik. Maka agar energi dapat dipergunakan dalam peralatan ini perlu dilakukan konversi energi.

Kedua, banyak pembangkit energi elektrik nonkonvensional memiliki bentuk yang tidak kompetibel dengan sumber energi elektrik lainnya.

Pembangkit listrik yang memanfaatkan photovoltaic sel menghasilkan tegangan dalam bentuk arus searah. Tegangan dari jala-jala berbentuk arus bolak-balik. Begitu juga dengan pembangkit listrik tenaga bayu, gelombang laut, dan sumber energi baru/terbarukan lainnya memiliki keluaran yang tidak sama persis satu sama lain. Sehingga jika sumber-sumber energi ini ingin dihubungkan satu dengan yang lain perlu dikonversi terlebih dulu.

#catatan kuliah elektronika daya#

Saturday, 22 January 2011

Air Galon

Minggu pagi besok kami berencana melakukan pindahan yang selama ini selalu tertunda. Saya pun melirik ke arah galon yang belum lama ditaruh di dispenser.

"Wah, gimana nih bawa galon yang udah dibalik ini? Masih banyak pula isinya."

"Oh iya ya. Gimana bawanya?" kawan saya menanggapi.

"Suruh aja semua orang menghabiskan air di dalamnya," saya menyeletuk.

"Mmh, gimana kalau tinggalkan saja di sini sampai habis?"

"Jadi kita bolak-balik nih ceritanya. Nanti pas di rumah baru terus merasa haus kita ke sini dulu? Yah, meski jaraknya cuma empat rumah, tapi enggak gitu juga kan.."

=_=a

Tuesday, 18 January 2011

Informasi Pendaftaran Beastudi Etos Tahun 2011

Seleksi penerima Beastudi Etos diadakan setiap tahun, dibuka pada bulan Januari. Sejak 2011, quota penerimaan adalah sebanyak 150 mahasiswa per tahun.

Tahapan seleksi sebagai berikut :

1. Seleksi administratif
2. Tes tulis & wawancara
3. Home visit
4. Seleksi masuk PTN

Persyaratan Umum :

* Lulus SMA/ sederajat
* Akan mengikuti seleksi masuk PTN program S1
* Diterima pada PTN dan jurusan yang direkomendasikan Beastudi Etos

Persyaratan Khusus :

* Beragama Islam
* Berasal dari keluarga tidak mampu
* Melampirkan surat keterangan tidak mampu dan slip gaji/surat keterangan penghasilan dari ketua RT atau DKM setempat
* Melampirkan Daftar Riwayat Hidup/ Biodata
* Mengisi dan menandatangani akad Beastudi Etos
* Melampirkan fotokopi raport SMA semester 1 – 5, STTB (bagi yang sudah lulus), Kartu Keluarga, KTP/ Kartu Pelajar
* Pas Foto 4 x 6 sebanyak 2 lembar
* Foto rumah (tampak keseluruhan, dan bagian dalam)
* Membuat tulisan tentang perjalanan kisah hidup

Biodata dan Akad Beastudi Etos dapat diunduh di sini.

Adapun jurusan yang direkomendasikan, dapat dilihat di sini.

Seluruh berkas pendaftaran dapat dikirimkan melalui ke alamat Asrama Beastudi Etos daerah terdekat dari calon pendaftar.

Contact Person Panitia Daerah :

Padang :


Meifal Rusli (0812 6695 3417) atau Parwanto (0852 6396 7234)

Asrama Beastudi Etos Padang : Kelurahan Kepalo Koto no.43, Kec. Pauh, Padang 25163

Jakarta :

Abdurakhman (0813 1084 5934) atau Ali Mulyadi (021 3433 7848, 0857 8174 2926)

Asrama Beastudi Etos Jakarta : Jl. Merak No. 6 RT. 03 /02, Kel. Beji Timur, Kota Depok 16424

Bogor :

Setyo Budi (0813 1760 6699), atau Robbi (0852 1565 7054)

asrama Etos (0251) 862 6633

Asrama Etos Bogor : Jl. Kampus Dalam IPB Dramaga, Babakan Raya 4 No. 68 RT 7/RW 3, Kec. Dramaga, Kab. Bogor 16680

Bandung :

Gantina Rahmaputri (0857 2339 2542, 0878 2193 7797) atau Nur Ahmadi (0813 1288 8188)

Asrama Etos (022) 250 8235

Asrama Etos Bandung : Jl. Ciheulang 89 Sekeloa 40134

Semarang :

Effendi Nugroho (0811 272 6772) atau Pariman (0852 2699 2485)

Asrama Etos Semarang : Jl. Banjar Sari, Gang Iweni Sari No. 18 Tembalang, Semarang 50275

Yogyakarta :

Murwantoko (0878 3811 5905), Fauziatul Muslimah (0857 2979 0039), Dunilah (0857 2936 4921)

Asrama Etos Yogya : Jl. Kaliurang KM 5,6 Gg. Pandega Duksina CT 1 No. 14 A, Depok Condong Catur, Sleman, Yogyakarta 55281

Malang :

Abdul Khaqim (0856 4955 2474), Harisah (0857 4950 3783), Ajeng (0852 3457 7714)

Asrama Etos Malang : Jl. Watu Gilang 1 No.19, Ketawang Gede, Lowokwaru, Malang 65145

Surabaya :

Nurul Aisyah (0856 4812 6140), Sayyid Bashori (0857 3077 9358), Muamar Khadafi (0852 301 41 990)

Asrama Etos Surabaya : Jl. Keputih Gang 3 no.47, Sukolilo Surabaya 60111

Makasar :

Anwar (0811 417 504), Ranto Ari P (0852 9964 6620), Misbahuddin Azis (0813 5585 4858), Rahmawaty (0852 4273 6427)

Asrama Etos Makassar : Komplek BTN Asal Mula Blok D5/5, Kel. Tamalanrea Indah, Kec. Tamalanrea, Makassar 90245

Samarinda:

Dompet Dhuafa Samarinda (0541 748711), Sapar (0856 5424 1078)

Unit Layanan Dompet Dhuafa Kalimantan Timur

Jl. Camar No. 98 RT. 27, Kelurahan Bandara, Kecamatan Samarinda Utara, Samarinda

—

Jika ada pertanyaan, terutama untuk Etos wilayah Bandung, silakan kirim email ke nur.el.ahmadi@gmail.com atau YM: magic_power132. Terima kasih.

Saturday, 8 January 2011

Berganti Logo

Akhirnya sempat juga mencoba untuk mengganti logo blog...
Jadi terasa lebih spesial, semoga jadi tambah semangat menulisnya nih. Amin.

hasil setelah logonya diganti

Terima kasih kepada Rinei Martiani yang telah memposting info bagus ini di blognya...


Pertama, masuk ke dashboard, lalu pilih design, dan gunakan tab edit html.

Kedua, cari dalam kode-kode itu bagian yang serupa dengan ini ]]></b:skin>
Saran: gunakan mesin pencari agar lebih cepat dan mudah (bisa dengan menekan ctrl+F atau pilih menu Edit - Find)

Terakhir, ganti kode tersebut dengan ]]></b:skin>< link href="Your image URL" rel="shortcut icon" type="image/x-icon"/>

Your Image URL silakan diganti dengan URL gambar yang hendak digunakan. Mudah bukan?

Selamat mencoba. Let's be special~~