Sunday, 9 October 2011

Galon, Pentas Seni, dan Malioboro - Part 1

Kisah ini dapat digolongkan dalam cerita-cerita mengenaskan yang pernah ada, meski tidak ada korban terluka secara fisik. Saya sarankan untuk tidak melanjutkan membaca kisah ini jika Anda tidak siap dengan alur cerita yang tidak menyenangkan serta gaya bahasa yang tidak membuat suasana hati nyaman. Saya tidak bertanggung jawab atas perbedaan antara penuturan dalam kisah ini dengan kenyataannya karena kisah ini ditulis hanya berdasarkan apa yang saya dengar dan ketahui. Untuk kisah lebih lengkap dan nyata, Anda dapat menghubungi secara langsung para tokoh di dalamnya.

Segalanya bermula dari sebuah tugas yang diberikan kepada Icha, Yoga, Ian, Halim, Afif, dan Fathy. Mereka berenam adalah etoser (sebutan bagi penerima beastudi Etos) dari Bandung untuk angkatan 2010. Di setiap akhir tahun pertama, para penerima beastudi itu mendapat kesempatan untuk berkumpul dengan rekan-rekan satu angkatannya yang terpisah kota dan perguruan tingginya.

Beruntung. Untuk pertama kalinya pertemuan itu (dikenal sebagai TENs "Temu Etos Nasional") diselenggarakan bukan di Parung, Bogor melainkan di kota pelajar, Yogyakarta.

Dari sekian banyak tugas yang diberikan, saya hanya ingin menyoroti tugas pentas seni mereka saja. Ya, tugas yang mendorong saya menulis kisah ini. Mengharukan.

Dalam tugas ini mereka ingin menampilkan semacam pertunjukan musik dengan berbagai alat. Alhasil, gitar dan galon pun diboyong dari Asrama Ciheulang (tempat asrama putra berada) dengan penuh perjuangan tentunya. Bagaimana tidak. Karena bukan hanya perbekalan normal saja yang harus mereka bawa, tapi ada tambahan satu buah karung besar berisi kaos untuk seluruh panitia dan peserta di sana yang sangat berat hingga untuk menggesernya saja dibutuhkan tenaga yang super duper ekstra.

Singkat cerita, tibalah saat mereka harus tampil untuk pentas seni. Tapi ada masalah yang mereka hadapi di sana. Galon yang semula mereka bawa dalam keadaan kosong itu menjadi penuh terisi air di detik-detik pementasan harus dimulai. Ternyata panitia salah mengira mengenai kepemilikan galon itu. Mau bagaimana lagi, akhirnya mereka harus tampil tanpa galon, teman latihan mereka.

Seiring dengan berjalannya waktu, galon kembali kosong. Dengan sigap, galon pun segera diamankan, mencegah terjadinya kejadian serupa itu.

Di hari keempat, saya bergabung dengan mereka, menyusul seorang diri dengan Lodaya Malam.

Tak terasa, acara TENs itu selesai juga. Kami masih punya waktu setengah hari sebelum jam keberangkatan kereta pulang tiba. Setelah melewati perdebatan yang tidak cukup hebat, akhirnya diputuskan untuk pergi ke Prambanan, lalu mampir Malioboro, sebelum menuju Stasiun Tugu.

Kami lalu bergegas mengepak semua barang bawaan, tak lupa pula gitar dan galon. Karena telah lewat tengah hari dan kami belum makan berat nasi, maka kami putuskan untuk mencari tempat untuk makan siang dulu sebelum menuju shelter TransJogja. Alhasil kami menemukan tempat yang memaksa kami lebih selektif dalam pemilihan menu mengingat isi kantong yang tidak terlalu tebal.

Setelah mengisi perut seadanya, kami pun langsung mobilisasi ke shelter terdekat. Hanya dengan berbekal info bahwa dengan bus TransJogja dan ongkos tiga ribu perak kami dapat sampai ke Prambanan, kami berjalan ke sana. Sesampainya di shelter tentu tak lupa kami memberanikan diri untuk bertanya, setelah memperhatikan ternyata ada banyak jurusan bus yang lewat shelter itu. Dipikir-pikir daripada tersasar lebih baik bertanya dengan memalukan.

Ternyata kita harus berganti bus sebanyak dua kali untuk sampai ke shelter Prambanan. Karena tidak hafal juga nomor jurusannya, kami memutuskan untuk tetap bertanya pada kondektur nanti di setiap pergantian bus. Karcis pun dibeli, lalu kami langsung memenuhi shelter dengan tubuh plus barang bawaan yang heboh, tak lupa pula galon dan gitar yang menyertai kami.

Dengan perjuangan lelah berdiri menunggu di shelter, duduk agak berdesak-desakkan di dalam bus, galon tetap setia bersama kami. Entah apa yang ada di benak penumpang lain, kami tampak tidak peduli, bahkan kami hanyut dalam kegembiraan senda gurau sepanjang perjalanan.

Betapa terkejutnya kami ketika melihat sebuah plang sewaktu tiba di kompleks Candi Prambanan. Plang itu menyatakan bahwa area Candi tutup pukul lima sore dan kami melirik pada arloji yang seolah mengejek dengan menunjukkan bahwa kala itu sudah jam setengah lima sore. Kami pun langsung berlarian menuju loket pembelian karcis. Dengan tergopoh-gopoh kami membayar tiket seharga Rp 22.000,- per orang. Tanpa membuang banyak waktu, namun tetap dengan kondisi tas masih bergelantungan di tubuh kami, begitu pula benda-benda lain memenuhi tangan-tangan kami.

Beruntung, di sana ada tempat penitipan barang. Yah, mungkin memang untuk meminimalkan dampak tangan-tangan jahil terhadap benda-benda di situs bersejarah itu. Alhasil, semua benda yang membebani, kecuali barang berharga dan kamera, kami titipkan pada ibu (yang baik) penjaga tempat penitipan barang itu.

Kami pun tidak mau menyia-nyiakan rupiah yang kami keluarkan untuk masuk kompleks candi ini. Kami segera berkeliling dengan kecepatan ekstra, mengambil gambar dengan kilat, namun sembari tetap menikmati dan mengagumi situs tersebut.

Waktu telah menunjukkan pukul lima, teringat akan segala barang yang dititipkan di tempat penitipan, khawatir ibu penjaga pulang setelah jam kerjanya habis, kami segera berjalan cepat menuju pintu keluar. Tapi tetap tak lupa mencari oleh-oleh dan berfoto ria. Dari kejauhan terlihat tempat penitipan barang sudah ditutup.

[bersambung]

Friday, 30 September 2011

Es Krim dan Hujan [part one]

Tahun ini berbeda dari biasanya. Entah mengapa saya ingin memberi sedikit kejutan pada ibu saya di hari peringatan kelahirannya, 4 Februari. Padahal di keluarga kami tidak ada tradisi untuk memperingati hari kelahiran. Hanya kangen saja, karena sudah lama tidak berkumpul bersama, sebab saya selalu di asrama, sedangkan adik saya ikut bersama nenek, dan alhasil ibu saya sendiri saja di rumah.

Banyak ide yang terlintas di dalam benak saya,. Namun akhirnya terpilih satu ide, es krim. Ya, santapan ini jarang-jarang hadir di tengah-tengah kami, belum lagi beberapa kali rencana makan es krim itu gagal, mati lampu lah, habis lah. Jadi saya rasa ini adalah saat yang tepat untuk menikmati es krim (salah satu makanan favorit saya). Adik saya pun setuju.

Setelah saya berpikir lagi, tercetuslah keinginan untuk membelikan kado juga. Ya, menyenangkan hati orang tua boleh donk (teringat kado yang saya berikan padanya tahun lalu: kain kerudung dan bros,hehehe) meski memang cara yang ditempuh bisa berbagai macam. Saya pun memutuskan untuk membeli buku yang berkaitan dengan kerajinan tangan, lumayan untuk referensi barang produksi kelak. Yupz, inginnya sih beli yang impor (dari Jepang), tapi harganya itu lho... Tak cukup lah budgetnya. (so, maybe next time). Akhirnya saya cari buku dengan range harga yang terjangkau oleh kocek saya yang terbatas ini.

Tibalah pada sore empat Februari. Adik saya menjemput ke asrama.

Ternyata perjalanan kami tidak terlalu mulus. Dengan mengendarai motor, turunnya hujan kala itu benar-benar menjadikan perjalanan kami pulang ke rumah seperti perjuangan berat menuju tempat yang jauh. Selain membuat sekujur tubuh basah kuyup, hujan yang tercurah dengan deras itu pun seolah menghanyutkan keinginan untuk membeli es krim. Dingin-dingin begini makan es krim? Tapi, setelah tiba di depan sebuah mini market tidak jauh dari rumah, kami meyakinkan diri untuk tetap membeli es krim V*******a.

Setelah membeli es krim, kami langsung melanjutkan perjalanan. Mulanya kami berharap bisa memberikan surprise dengan mengendap-endap masuk rumah, tapi apa daya, baru saja tiba di depan gerbang, ibu saya sudah keluar rumah dan melihat kami. Gagal sudah.  

Tuesday, 9 August 2011

[BEASISWA] Seleksi Beastudi Etos Bandung Gelombang 2

Assalamu’alaikum wr. wb.
 
Beastudi Etos kembali membuka pendaftaran seleksi bagi teman-teman yang sudah diterima di jurusan yang direkomendasikan di universitas wilayah Bandung (ITB dan UNPAD), dengan rincian kuota:
  1. Asrama di Bandung
    Dua ikhwan (ITB atau UNPAD Dipati Ukur)
    Dua akhwat (ITB atau UNPAD Dipati Ukur)
  2. Asrama di Jatinangor
    Dua akhwat Unpad Jatinagor (HANYA AKHWAT SAJA)
Berikut daftar jurusan yang direkomendasikan
  1. Institut Teknologi Bandung
    Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Fakultas Teknologi Industri, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Fakultas Sipil dan Lingkungan, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Sekolah Farmasi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati.
  2. Universitas Padjajaran
    Ilmu Hukum, Pendidikan Kedokteran, Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Pemerintahan, Ilmu Administrasi Niaga, Ilmu Administrasi Negara, Psikologi, Ilmu Komunikasi, Ekonomi dan Studi Pembangunan, Manajemen, Akuntansi, Sastra Inggris, Teknik dan Manajemen Industri Pertanian, Teknologi Industri Pangan.
Adapun fasilitas yang diberikan
  1. Uang saku Rp 450.000/bulan
  2. Akomodasi asrama selama tiga tahun
  3. Pembinaan empat domain (agama, sosial, pengembangan diri, dan akademik)
Berkas-berkas persyaratan
  1. Form biodata (bisa di download disini, untuk hal 4 bagian universitas isi jurusanyang telah ditempati )
  2. Fotokopi raport semester 1-5
  3. Surat keterangan tidak mampu
  4. Surat keterangan penghasilan orang tua
  5. Kartu keluarga
  6. KTP/Kartu Mahasiswa/kartu identitas lainnya
  7. Pas foto 4×6 sebanyak 2 lembar
  8. Foto rumah (semua ruangan)
  9. Tulisan tentang perjalanan kisah hidup
  10. Sertifikat prestasi (jika ada)
Timeline
  1. 6-20 Agustus, pengumpulan berkas persyaratan
  2. 21 Agustus, seleksi tulis dan wawancara
  3. 22 Agustus-6 September, homevisit
Batas akhir pengumpulan berkas 20 Agustus 2011 cap pos
Alamat kirim : Jalan Ciheulang 89 Kelurahan Sekeloa Kecamatan Coblong Kota Bandung 40134

Keterangan lebih lanjut hubungi CP
Gantina Rahmaputri (087821937797)
Angga Irawan (085759915752)
juga cek website etosbandung.wordpress.com secara berkala.

Terimakasih.
Wassalamu’alaikum wr wb.

 sumber : http://etosbandung.wordpress.com/2011/08/06/seleksi-beastudi-etos-bandung-gelombang-2/

Sunday, 24 July 2011

Apa Benar ini Mati Lampu?

Baterai laptop tinggal separuh. Koneksi internet pun didapat dari laptop sebelah. Malam ini, meski seharusnya saya tidak di sini lagi, tapi kenyataan berkata lain. Ya, saya sedang menginap di asrama yang notabene seharusnya sudah saya tinggalkan.

Malam ini, setelah melepas kepergian personil e-Band 2010 yang hendak menuju Jogja, saya memutuskan untuk ikut menginap di asrama, karena jaraknya lebih dekat dibanding harus pulang ke rumah. Tak disangka, entah mengapa, listrik di asrama mati. Kini saya hanya mengandalkan penerangan senter dari ponsel, dan batere laptop yang sudah hampir tersisa sepertiganya.

Mulanya saya memberanikan diri untuk mengecek ke luar, dan untuk menyalakan saklarnya. Namun sesampainya di ruang tengah, saya urungkan niat saya itu. Dalam pikiran saya tiba-tiba banyak hal yang berkecamuk. Melirik rumah sebelah dari kaca belakang. Lampunya tidak mati. Oh, tidak, artinya hanya tempat kami saja yang mati lampu. Mengingat hanya tertinggal saya seorang diri yang masih terjaga, saya benar-benar mengurungkan niat saya untuk mengecek kondisi di depan. Karena hal yang paling saya takutkan adalah bagaimana kalau memang ada yang sengaja mematikan saklar itu, lalu dia menunggu ada seseorang yang keluar untuk mengeceknya. Ah, tidak, lagi-lagi imajinasi saya mulai berlebihan. Namun karena sudah sempat terlintas pikiran seperti itu, maka saya putuskan untuk menulis saja di blog, dengan segenap energi yang tersisa. Semoga semua itu memang hanya imajinasi saya saja. Ya, saya akan cek kondisi sekringnya besok pagi saja.

Friday, 1 July 2011

Ini Kosan Irfan?

Entah mengapa mengingatnya membuat saya merinding, takut akan sesuatu yang tidak baik dapat terjadi.

Hal ini terjadi kemarin, tepatnya tidak lama setelah adzan maghrib berkumandang. Saya baru saja selesai berwudhu dan berjalan ke ruang tengah untuk menunaikan shalat maghrib. Namun saya dikejutkan oleh siluet pemuda di pintu depan. Sontak saja saya memekik dan langsung berlari ke arah sudut mati pandangan pemuda itu. Tentu saja dengan kondisi lampu dalam menyala dan gorden yang tersingkap, pemuda itu dapat melihat jelas ke ruang tamu dan sebagian ruang tengah melalui pintu yang didominasi kaca itu. Sungguh mengagetkan.

"Tunggu sebentar," saya menjawab kedatangannya.

Memang saat itu beberapa orang dari asrama putra memang sedang beristirahat sejenak di tempat kami setelah kepulangan kami dari kegiatan bakti sosial hari itu. Tapi mereka semua sedang pergi ke masjid. Jadi, siapakah yang ada di balik pintu depan itu. Saya rasa (saat itu) saya tidak mengenalnya. Setelah cukup bersiap, saya beranjak menuju pintu depan dan membukanya. Oops, ternyata tidak terkunci. 

Benar saja, pemuda itu tidak saya kenali.

"Hendak mencari siapa ya?"

"Apa ini kosan irfan?" tanyanya

"Bukan."

Pemuda itu pun langsung melengos pergi. Saya pun langsung menutup pintu dan TIDAK LUPA menguncinya.

Setelah selesai shalat maghrib dan penghuni asrama putra kembali dari masjid, kami berbincang sejenak. Saya pun bercerita mengenai kejadian tadi.

Ternyata ada tanggapan mengejutkan yang diungkapkan oleh salah satu dari mereka.

Berikut penuturannya (tidak persis sama, namun secara substansi sejalan) :

Aku pernah diceritain ama seorang bapak-bapak. Ada kejadian seseorang datang dan mengaku sebagai teman dari salah satu pemilik kamar kosan (yang sedang tidak ada di tempat) lalu berkata pada orang yang tinggal di kamar lain di kosan itu kalau dia disuruh ama si pemilik kosan untuk mindahin isi kamarnya ke tempat lain. Si pemilik kamar lain (dengan polosnya) mempersilakan. Dan ternyata setelah si pemilik balik ke kosan, dia sangat terkejut bukan kepalang karena melihat kamarnya yang kosong melompong.

Ckckck.. Ada-ada saja cara maling beroperasi.

Saya pun teringat akan plang di depan yang bertuliskan huruf besar-besar "ASRAMA PUTRI BEASTUDI ETOS BANDUNG". Lha, kok masih tanya, apa ini kosan Irfan?

Wednesday, 15 June 2011

Wahai Keberanian

Wahai keberanian,
Mengapa engkau pergi?
Setelah aku mulai akrab dengan rasa takut.
Apa kau tak senang aku berteman dengannya?
Katakanlah sejujurnya!
Jika memang begitu,
Sungguh aku lebih memilih bersahabat denganmu,
Wahai keberanian.
Aku berjanji,
Kan ku akhiri pertemananku dengan rasa takut.
Aku ingin kita kembali menjadi sahabat baik,
Wahai keberanian,
Bertemanlah lagi dengan ku.

Saya, Mr. Franco, dan Betrix

Hari ini belum genap seminggu betrix itu nongkrong di asrama. Ternyata tidak ada tempat yang terlindung dari hujan di luar. Alhasil sore ini adalah pertama kalinya dia 'mandi'. Tak apalah. Semoga kau tidak kedinginan di luar sana. Hehehe.

Betrix Sky-blue

Ohya, ada beberapa alasan mengapa betrix tipe sky-blue itu bisa nongkrong di situ. Pertama, ketetapan hati saya untuk tidak nge-kos setelah keluar asrama (alias di dug-dag dari rumah - pulang pergi, PP), jadi saya harus mencari alat transportasi yang bisa membuat saya lebih mobile. Kedua, rasa trauma saya untuk mengendarai motor sehingga saya harus mencari alternatif lain yang fleksibel namun saya sanggup menjalaninya. Ketiga, keterbatasan isi kocek. Semua itu menjadikan pilihan jatuh pada betrix tipe sky-blue yang notabene tidak benar-benar baru itu.

Pertama kali mencoba memang tetap saja ada rasa takut dan grogi. Belum lagi tidak terbiasa menangani benda berat seperti itu (lemah juga ya, padahal masih lebih ringan dari motor). Yang lebih berat adalah ketika harus mengeluarkan aki dari tempatnya untuk di-charge. Bagi saya, empat aki 12 Volt yang disusun seri itu bukan main beratnya. Meski penuh perjuangan, lama kelamaan jadi terbiasa juga.

Latihan pertama adalah menapaki sepanjang jalan Cisitu Baru. Meski digodain sama mamang bangunan yang lagi nge-rehab kosan tetangga. "Yang ngebut atuh, Neng." Biarlah, yang penting berani dulu mencoba. Latihan berikutnya jangkauan saya perluas jadi keluar dari Cisitu Baru, ke jalan Sangkuriang, lalu lewat Simpang Dago, terus balik lagi deh ke Cisitu Baru. Cukup menegangkan. Selain jalan menurun, dilanjut juga dengan jalan yang cukup ramai. Hari itu saya cukupkan dengan berputar dengan trek itu sebanyak dua kali. Itu saja sudah membuat jantung saya pun berolahraga. Dag dig dug.

Berikutnya jangkauan saya perjauh lagi hingga ke Masjid Salman. Wuaaah, ini lebih dag dig dug lagi. Tapi enak juga tuh perginya, karena tinggal diam saja sudah bisa jalan tuh betrix, wong jalannya menurun. Yang ada malah rem yang main terus-terusan, karena takut jika terlalu cepat. Hehehe.

Kesempatan selanjutnya, saya merencanakan untuk pergi ke Bank Syariah Mandiri, letaknya lebih jauh dari jembatan layang Pasopati, pokoknya ke arah jalan Merdeka. Namun sebelumnya, saya memutuskan untuk mampir dulu ke Salman. Ternyata justru saya menemui hal yang menarik dengan mampir di Salman. Saya berkenalan dengan Mr. Franco dari Argentina. Dia ada di Indonesia sejak 10 bulan yang lalu untuk belajar Bahasa Indonesia. Tidak heran jika dia dapat berbicara Bahasa Indonesia dengan lancar. Yah, meski saya seringkali kebingungan mencari kosakata baku dalam percakapan kami, sehingga tak jarang saya padukan dengan ekspresi gerak.

Mengapa saya bisa berkenalan dengan Mr. Franco? Semua itu karena si Betrix. Ya, dia tertarik ketika saya hendak memarkirkan si Betrix di Salman. Mr. Franco pun banyak bertanya hingga saya sendiri sempat melupakan tujuan utama saya ke Salman. Saya pun keasyikan berbincang dengannya. Mr. Franco orang yang menyenangkan. Dia sangat suka bersepeda. Dia mengaku tidak suka kalau harus naik angkot, sehingga lebih senang menggunakan sepeda. Mengapa? Saya pun menanyakan perihal itu padanya. "Kalau pakai angkot itu panas," tuturnya, "lama pula". "Belum lagi kalau ada asap rokok, saya tidak suka," akunya. Benar juga kata Mr. Franco, saya pun merasakan itu.

Perbincangan kami berada di seputar Betrix, bagaimana cara kerjanya, apa lebihnya. Saya sampaikan bahwa motornya digerakkan oleh aki. Tidak perlu BBM karena aki di-charge menggunakan listrik. Mr. Franco sangat tertarik dengan itu. Dia takjub karena belum melihat sepeda seperti ini di negaranya. Adapun sepeda bermesin, namun menggunakan BBM sehingga menimbulkan suara bising. Saya pemain baru di sini. Saya pun kelabakan ketika ditanya, bagaimana kalau pergi ke mall, apa parkir di tempat sepeda atau tempat motor? Mmmh, jujur saja, saya belum pernah memakainya sejauh itu, umurnya di tangan saya pun belum genap seminggu. Sempat bingung juga, karena ketika mau parkir di Salman pun diteriakin ama bapak pegawai karena tidak parkir di tempat motor (ya, karena penampilannya itu).

Mr. Franco bilang kalau September nanti ada temannya dari Argentina mau datang ke sini untuk kuliah di UPI, dan dia mau menyarankan kendaraan ini pada temannya itu. Wah, asyik juga tuh kalo bisa jadi terkenal juga di negara lain. Hehehe.

Sungguh, perbincangan kami sungguh mengasyikkan. Hal ini terbukti karena ternyata waktu untuk melakukan tujuan saya yang utama di sana lebih singkat dari perbincangan itu.

Ketika hendak keluar dari tempat parkir, saya lihat Mr. Franco pun hendak beranjak dengan sepedanya. Saya pun menyapanya dan menawarkan, apa mungkin dia ingin mencoba. "Tentu saja, terima kasih," jawabnya. Dia pun mencoba menaiki si Sky-blue. Setelah putaran pertama selesai, dia bertanya, "biasanya kamu simpan kaki dimana?" Tentu saja saya memakainya seperti orang pada umumnya menaiki motor Mio. Ternyata pada putaran pertama tadi, Mr. Franco menaruh kaki pada pedal untuk mengayuh. Dia pun meminta untuk mencoba sekali lagi dengan tidak menaruh kaki pada kayuhan. Lalu di putaran terakhir dia mencoba dengan hanya mengayuhnya saja. "Ternyata lebih berat dibanding sepeda saya itu ya," ujarnya. Hahaha, tentu saja, bentuk bodi-nya saja lebih gendut.

May I take a pic of you. Yes, of course.
Mr. Franco pun dengan senang hati bergaya.

Mr. Franco setelah mencoba betrix dua putaran