Showing posts with label kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah. Show all posts

Saturday, 13 September 2014

Action in Japan Tourism Performance at Garuda Indonesia Travel Fair

12 September 2014. Hari ini saya beserta adik saya diminta bantuan untuk tampil dalam Japan Tourism Performance pada panggung utama Garuda Indonesia Travel Fair. Tentu saja kami menjadi bagian dari penampilan ini dengan tujuan dan maksud tertentu. Tahun lalu, adik saya menjadi salah satu dari tiga pemenang undian perjalanan ke Gunung Fuji, Yamanashi yang diadakan oleh Lawson bekerja sama dengan Garuda Indonesia dan Pemerintah Prefektur Yamanashi. Saya sebagai pihak terajak tentu memiliki pengalaman yang sama dalam perjalanan tersebut. Oleh karena itu, kami mewakili pemenang lainnya diminta untuk menceritakan pengalaman kami sewaktu perjalanan ke Gunung Fuji tahun lalu sekaligus membantu mempromosikan promo baru dari Lawson.

Boarding Pass untuk Garuda Indonesia Travel Fair

Seminggu sebelumnya saya mendapat pengarahan langsung dari staff pemda Yamanashi via telepon. Sungguh merupakan kesempatan langka untuk mendapat panggilan telepon internasional. (Padahal staff pemda yang menelepon adalah orang Indonesia yang bekerja di sana. Jadi semua beres dilakukan dalam bahasa Indonesia. Hehehe..) Setelah itu, beliau mengirimkan naskah dan presentasi yang akan digunakan pada hari-H nanti. Skenario yang tidak terlalu sulit. Cukup bercerita pengalaman, menjelaskan event promo, dan berusaha bersifat mengajak pada penonton.

Kembali pada hari-H. Sebelum mentas, kami mendapat pengarahan terlebih dahulu dari orang pemda Yamanashi (yang ini asli orang Jepang, jadi kami dibantu penerjemah). Karena sebelumnya sudah mendapat pengarahan terlebih dahulu, kami tidak terlalu bingung untuk menangkap maksudnya. 

Naskah yang diberikan pada briefing sebelum pentas
(ya pak, mana saya bisa baca, hehe.. tapi berkat pak penerjemah, saya tahu maksud tiap poinnya)
Selain kami, sebagai perwakilan dari pemenang promo Lawson tahun lalu, ada empat orang lainnya yang tampil di penampilan ini. Yang pertama adalah mas MC (saya lupa menanyakan namanya). Lalu ada Yumi, penyanyi yang sedang memulai debutnya di Jepang. Yumi ini orang Indonesia loh, dari Bandung (malah). Dia menyanyikan dua buah lagunya untuk mengawali pentas kami. Setelah itu orang pemda Yamanashi, ditemani seorang penerjemah, melanjutkan penampilan kami dengan penjelasan tentang promo Lawson ini. Lalu kami meneruskan dengan menceritakan pengalaman kami selama perjalanan tahun lalu. Kemudian pentas kami ditutup dengan penjelasan mengenai pesona Yamanashi oleh mas MC dan Yumi.

Yumi, saya, mas MC, dan adik saya
(urutan dari kiri ke kanan)
Ya, semoga bisa kembali terbang bersama Garuda Indonesia ke Jepang~

Untuk kalian yang tertarik dengan promo ini, caranya mudah kok,

Pertama, belanja di Lawson minimal Rp 25.000,- dan di dalamnya termasuk 1 produk original Lawson (seperti Oden, Onigiri, Bento, In Store Cooking, Fride Foods, dll).

Kedua, tweet kode struk beserta alasan kalian ikutan promo ini.

Ketiga, sertakan hashtag #LawsonGoestoJapan di tweet kalian.

Pastikan akun kalian dapa dilihat oleh publik ya..

Promo ini berlangsung pada 16 September 2014 sampai akhir Oktober 2014. Silakan ikut, dan raih kesempatan untuk terbang ke Jepang bersama Garuda Indonesia dan melihat secara langsung gunung Fuji di Januari 2015!

Ayo ikutan!

Sunday, 24 February 2013

(padahal) Selangkah lagi

Sepulang dari acara sehat mingguan (baca: lari pagi), seorang kawan memutuskan untuk membeli ikan untuk mengisi kolam di rumahnya. Tentu saja saya menemani karena keputusan ini didasari oleh penuturan saya yang menyatakan bahwa ada toko yang menjual ikan di jalan yang akan kami lewati untuk pulang. Berbekal petunjuk mama yang bilang kalau letak toko ikan itu tidak jauh dari belokan setelah keluar gerbang tol (karena saya sendiri sebenarnya belum tahu letak toko tersebut) maka kami memacu kendaraan dengan lambat sembari memerhatikan setiap toko yang terlewati.

Setelah melewati beberapa kios, tak jua nampak toko yang kami cari-cari.

"Ah, itu," seru kawan saya, "Ikannya sudah dimasak," tambahnya sembari menunjuk sebuah rumah makan padang di sisi jalan.

Haha, sudah tampak putus asa rupanya. Karena rasanya sudah jauh kami berjalan dari keluar gerbang tol, tapi toko itu belum terlihat juga. Hingga akhirnya kami menemukan rumah makan padang yang kesekian sembari melontarkan candaan yang serupa setiap menemukan hal yang sama. Kami pun mengakhiri pencarian, kemudian memutuskan untuk langsung pulang saja. Kandas sudah niatnya untuk membeli ikan saat itu.

Hari-hari berganti. Suatu kondisi menyebabkan saya harus melewati jalur yang sama dengan waktu itu untuk pulang. Yang berbeda adalah kondisi jalan yang sangat macet menjadikan setiap kendaraan bergerak dengan sangat lambat hingga dapat membuat bosan para penumpang. Macet yang super itu hampir membuat saya jengkel juga, tapi saya tiba-tiba teringat kembali dengan toko ikan yang sebelumnya saya cari-cari. Dan ternyata lagi-lagi yang saya jumpai adalah rumah makan padang sehingga saya tersenyum-senyum sendiri mengingat candaan kami waktu itu.

Tak lama setelah melewati rumah makan padang yang terakhir kami amati, saya melihat tulisan "... aquarium" di suatu kios.

"Itu dia!"

Oke, kalau waktu itu kami tidak cepat-cepat mengakhiri pencarian, niscaya kami akan menemukan toko ikan saat itu juga. Nice!

Sunday, 4 November 2012

Terjaga di Saat yang Tepat

Tiba-tiba dia duduk di sampingku. Aku pun kaget dan terjaga, sembari berusaha memahami situasi saat itu. Tak sampai tiga detik, aku menyadari bahwa ada hal yang harus kulakukan. Bersikap siaga.

Ini bukan kali pertama aku bertemu dengan mereka. Meski tak yakin mereka adalah orang-orang yang persis sama dengan yang saya jumpai pertama kali, tapi apa yang mereka lakukan tidak lah jauh berbeda. Bekerja berkelompok dan memanfaatkan kelengahan dan penuh sesak penumpang dalam bus kota. Hampir saja aku menjadi korban tangan-tangan jahil mereka.

Mungkin ada banyak cara yang mereka lakukan dalam beroperasi mencari mangsa. Tapi, setidaknya ada beberapa tindak-tanduk yang dapat diamati agar dapat bersikap siaga.

  1. Umumnya mereka bekerja secara berkelompok, jadi jika ada keributan di sisi lain bus, jangan kehilangan kewaspadaan karena bisa jadi masih ada komplotannya di samping kita yang menunggu kita lengah.
  2. Mereka seringkali memanfaatkan kondisi penuh sesak penumpang dalam bus. Selalu awasi barang bawaan, terutama dalam kondisi penuh sesak karena mereka berkesempatan merapat pada kita tanpa kita sadari.
  3. Biasanya mereka menutupi gerak-gerik tanggannya menggunakan tas kosong (mungkin tas gendong, bisa juga tas selempang) yang ditaruh di depannya. Kalau mendapati orang dengan tindak-tanduk mencurigakan dan berpenampilan seperti ini, bersikaplah siaga dengan selalu mengamati posisi tangan mereka dan menjauhkannya dari barang bawaan kita.

Meski mereka sering menggunakan kesempatan saat penuh sesak, bukan berarti kita bisa melonggarkan kewaspadaan kita. Ya, seperti hari ini. Kondisi bus yang kunaiki tidaklah penuh sesak. Bahkan ada banyak bangku kosong. Tapi ternyata, mereka tetap saja berusaha menjalankan aksinya. Untunglah, tadi aku terjaga di saat yang tepat, sehingga tidak jadi korbannya. Walaupun begitu, tampaknya aku tetap harus berhati-hati jika bertemu dengan mereka lagi, karena salah satu anggotanya melambaikan tangan dan memasang senyuman saat aku turun dari bus. Senyuman berbahaya. 

Semoga Allah selalu melindungi dan menjaga kita.

Thursday, 1 March 2012

Ada Apa di Malam 28 Februari?

Dua puluh delapan Februari. Apa yang istimewa dengan tanggal itu? Tak ada tampaknya, kecuali masih ada esok, satu hari lagi di bulan Februari untuk tahun ini.

Memang tidak ada yang istimewa. Saya pergi ke kampus seperti biasa saja. Pulang pun sama saja, seperti biasa menggunakan angkot SSC (Sadang Serang-Caringin) lalu dilanjutkan dengan KRD keberangkatan jam tujuh malam dari stasiun Bandung. Malam itu pun saya tiba di Gadobangkong dengan sambutan hujan gerimis.

Dengan berbekal payung biru bergambar Winnie the Pooh, saya menerjang hujan yang semakin lama semakin deras. Jika berjalan santai, saya hanya perlu waktu 25 menit untuk tiba di rumah. Ya, jalanan itu agak menyeramkan bagi saya untuk menyeberang. Jalanan yang terus menurun dari arah jembatan Gadobangkong hingga belokan setelah pom bensin membuat tikungan di bawah sana itu rawan sekali menjadi tempat terjadinya kecelakaan. Untuk alasan itulah, saya lebih memilih berjalan kaki saja. Karena untuk naik angkot saya harus menyeberang dan menyeberang lagi setelah sampai. 

Belum ada 400 meter saya berjalan, hal yang mengejutkan terjadi di seberang jalan tempat saya berjalan saat itu. Kejadiannya begitu cepat, hingga yang dapat saya lihat hanya hasil dari kejadian itu saja. Ya, yang saya lihat hanya orang-orang yang tergeletak di jalan dengan helm yang terlepas dari kepalanya, juga motor yang jatuh tersungkur. Cepatnya kejadian dan hujan yang mengguyur membuat semua tak tampak dengan jelas. Panik tentu saja. Tak peduli hujan masih turun dengan deras, saya tutup payung dan bersegera berlari ke arah kejadian sembari berusaha menghentikan kendaraan-kendaraan yang lewat dengan jalan melambat dan meminta pengendaranya membantu terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan mereka. Tanpa ragu-ragu saya membantu mengangkut salah satu korban. Tidak sendiri tentu karena bahkan diangkut oleh berempat saja kami sudah berpayah-payah.

Sulit rasanya menggambarkan apa yang terjadi sebenarnya. Yang pasti, yang saya dapati saat itu adalah adanya empat orang korban. Tiap dua orang berboncengan sehingga ada dua motor yang terlibat dalam kejadian itu. Dua pengendara di motor yang pertama sama sekali tidak memiliki identitas. Sulit sekali mengidentifikasinya karena meski tidak terlihat ada luka luar, mereka tidak sadarkan diri. Entah karena benturan atau mabuk minuman keras. Saya tidak berani menyelidiki lebih jauh. Cukup mengerikan melihat darah keluar dari mulut mereka. Yang ada hanyalah nomor kendaraan yang mereka gunakan. Telepon seluler, bahkan dompet pun tidak ada.

Teringat akan adanya korban yang lain, saya pun berpindah posisi menuju tempat pengamanan dua korban lainnya itu. Ternyata dua korban lagi tetap sadar. Yang pertama ada seorang pemuda dengan usia sekitar 25 tahunan. Dia terduduk dengan memegang telepon seluler. Wajah bagian kanan penuh luka. Bagian dahi dan pipi terkoyak dan terus menerus mengeluarkan darah merah. Luka kecil saja sudah membuat saya meringis, apalagi luka seperti ini. Namun saya tetap berusaha menjaga ekspresi untuk tidak berlebihan agar tidak membuat korban menjadi lebih panik. Korban yang satu lagi adalah bapak-bapak kisaran usia 50 tahunan. Beliau ditidurkan terlentang dengan alas kardus dan koran. Di wajahnya tidak ada luka-luka berarti seperti sang pemuda tadi, yang terlihat hanya lecet kecil saja. Tapi entah apa yang membuat sang bapak tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk bangun. Pertanyaan itu pun terjawab ketika sang bapak itu menekuk lutut kanannya. Sangat jelas terlihat, lututnya robek hingga terlihat bagian tulangnya. Ah, sungguh tak sanggup saya berlama-lama melihatnya. Dengan segera saya alihkan pandangan ini ke tempat lain, dan berusaha mengatakan pada bapak itu untuk tidak menekuk kakinya. Saya sangat takut lukanya bertambah parah.

Beruntung untuk dua korban terakhir yang saya ceritakan ini, mereka sadar dan dapat dengan mudah menghubungi kerabatnya. Meski dengan kondisi linglung, sang pemuda dapat mengontak familinya yang tidak lama kemudian datang dan membawa mereka berdua ke rumah sakit.

Hari sudah beranjak sangat malam, hampir menunjukkan pukul sembilan malam. Jadi, saya putuskan untuk pulang setelah bapak dan pemuda itu dibawa pergi ke rumah sakit. Namun sebelum saya pergi meninggalkan kondisi kejadian, saya menyempatkan diri melihat motor yang dikendarai mereka. Terang saja, bagian kanannya rusak parah, sampai-sampai kunci motor pun tertahan di sana tidak dapat dilepas. Hal ini pun menjelaskan mengapa sang bapak itu bisa mendapat robekan di lutut kanannya.

Hingga saya pulang, tampaknya belum ada penanganan yang berarti untuk dua korban lainnya yang tanpa identitas itu. Menurut keterangan yang saya peroleh dari orang-orang yang turut membantu penyelamatan korban, akhirnya yang dihubungi adalah polisi agar dapat dilacak dari nomor kendaraan yang digunakan.

Malam yang menegangkan untuk saya, dan juga menyisakan sedikit trauma untuk berkendaraan atau pun berjalan di daerah tempat lalu lalang kendaraan.

Namun ada beberapa pelajaran yang saya ambil dari kejadian ini adalah

  1. Selalu bawa identitas ke mana pun kita pergi.
  2. Simpan nomor kontak keluarga/kerabat yang mudah dihubungi, bisa di dalam telepon seluler atau di dalam dompet.
  3. Jika berkendara, pastikan peralatan keselamatan yang dipakai memenuhi standar. Harga peralatan yang mahal tetap tidak sebanding dengan nyawa.
  4. Simpan nomor kontak rumah sakit terdekat dengan jalur aktivitas kita.
  5. Ingat kembali pelajaran tentang pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) agar dapat memberikan penanganan darurat sebelum ada pertolongan dari petugas medis.
  6. Selalu berdoa dan meluruskan niat dalam beraktivitas.

Wallahu alam.

Lokasi kejadian: Jalan Raya Gadobangkong Padalarang

Thursday, 19 January 2012

Kolak Wortel

Pagi itu saya melihat ibu membersihkan wortel lalu memotong-motongnya menjadi potongan dadu kecil. Sekilas saja saya perhatikan apa yang beliau lakukan, karena saya harus segera bersiap untuk pergi ke kampus. Ya, perjalanan yang tidak sebentar memang, tapi menyenangkan jika mengingat setiap kali bisa bertemu dengannya ketika pulang dari kampus.

Lalu, sore itu, sepulang dari kampus, saya langsung disuguhi semangkok kolak hangat. Kuah nya berwarna jingga. Saya pun berceletuk, "Kolak wortel, Mah?"

Ibu saya pun tertawa. "Mana ada," katanya sembari memasang tampang heran.

Benar saja. Setelah saya cicipi ternyata itu kolak ubi dan begitu saya melongok ke arah meja makan, di sana terhidang semangkok besar sup nikmat dengan potongan wortel di dalamnya.

Ternyata memang tidak baik terlalu cepat menarik suatu kesimpulan, apalagi jika hanya didasari fakta yang sedikit.

Sunday, 9 October 2011

Galon, Pentas Seni, dan Malioboro - Part 1

Kisah ini dapat digolongkan dalam cerita-cerita mengenaskan yang pernah ada, meski tidak ada korban terluka secara fisik. Saya sarankan untuk tidak melanjutkan membaca kisah ini jika Anda tidak siap dengan alur cerita yang tidak menyenangkan serta gaya bahasa yang tidak membuat suasana hati nyaman. Saya tidak bertanggung jawab atas perbedaan antara penuturan dalam kisah ini dengan kenyataannya karena kisah ini ditulis hanya berdasarkan apa yang saya dengar dan ketahui. Untuk kisah lebih lengkap dan nyata, Anda dapat menghubungi secara langsung para tokoh di dalamnya.

Segalanya bermula dari sebuah tugas yang diberikan kepada Icha, Yoga, Ian, Halim, Afif, dan Fathy. Mereka berenam adalah etoser (sebutan bagi penerima beastudi Etos) dari Bandung untuk angkatan 2010. Di setiap akhir tahun pertama, para penerima beastudi itu mendapat kesempatan untuk berkumpul dengan rekan-rekan satu angkatannya yang terpisah kota dan perguruan tingginya.

Beruntung. Untuk pertama kalinya pertemuan itu (dikenal sebagai TENs "Temu Etos Nasional") diselenggarakan bukan di Parung, Bogor melainkan di kota pelajar, Yogyakarta.

Dari sekian banyak tugas yang diberikan, saya hanya ingin menyoroti tugas pentas seni mereka saja. Ya, tugas yang mendorong saya menulis kisah ini. Mengharukan.

Dalam tugas ini mereka ingin menampilkan semacam pertunjukan musik dengan berbagai alat. Alhasil, gitar dan galon pun diboyong dari Asrama Ciheulang (tempat asrama putra berada) dengan penuh perjuangan tentunya. Bagaimana tidak. Karena bukan hanya perbekalan normal saja yang harus mereka bawa, tapi ada tambahan satu buah karung besar berisi kaos untuk seluruh panitia dan peserta di sana yang sangat berat hingga untuk menggesernya saja dibutuhkan tenaga yang super duper ekstra.

Singkat cerita, tibalah saat mereka harus tampil untuk pentas seni. Tapi ada masalah yang mereka hadapi di sana. Galon yang semula mereka bawa dalam keadaan kosong itu menjadi penuh terisi air di detik-detik pementasan harus dimulai. Ternyata panitia salah mengira mengenai kepemilikan galon itu. Mau bagaimana lagi, akhirnya mereka harus tampil tanpa galon, teman latihan mereka.

Seiring dengan berjalannya waktu, galon kembali kosong. Dengan sigap, galon pun segera diamankan, mencegah terjadinya kejadian serupa itu.

Di hari keempat, saya bergabung dengan mereka, menyusul seorang diri dengan Lodaya Malam.

Tak terasa, acara TENs itu selesai juga. Kami masih punya waktu setengah hari sebelum jam keberangkatan kereta pulang tiba. Setelah melewati perdebatan yang tidak cukup hebat, akhirnya diputuskan untuk pergi ke Prambanan, lalu mampir Malioboro, sebelum menuju Stasiun Tugu.

Kami lalu bergegas mengepak semua barang bawaan, tak lupa pula gitar dan galon. Karena telah lewat tengah hari dan kami belum makan berat nasi, maka kami putuskan untuk mencari tempat untuk makan siang dulu sebelum menuju shelter TransJogja. Alhasil kami menemukan tempat yang memaksa kami lebih selektif dalam pemilihan menu mengingat isi kantong yang tidak terlalu tebal.

Setelah mengisi perut seadanya, kami pun langsung mobilisasi ke shelter terdekat. Hanya dengan berbekal info bahwa dengan bus TransJogja dan ongkos tiga ribu perak kami dapat sampai ke Prambanan, kami berjalan ke sana. Sesampainya di shelter tentu tak lupa kami memberanikan diri untuk bertanya, setelah memperhatikan ternyata ada banyak jurusan bus yang lewat shelter itu. Dipikir-pikir daripada tersasar lebih baik bertanya dengan memalukan.

Ternyata kita harus berganti bus sebanyak dua kali untuk sampai ke shelter Prambanan. Karena tidak hafal juga nomor jurusannya, kami memutuskan untuk tetap bertanya pada kondektur nanti di setiap pergantian bus. Karcis pun dibeli, lalu kami langsung memenuhi shelter dengan tubuh plus barang bawaan yang heboh, tak lupa pula galon dan gitar yang menyertai kami.

Dengan perjuangan lelah berdiri menunggu di shelter, duduk agak berdesak-desakkan di dalam bus, galon tetap setia bersama kami. Entah apa yang ada di benak penumpang lain, kami tampak tidak peduli, bahkan kami hanyut dalam kegembiraan senda gurau sepanjang perjalanan.

Betapa terkejutnya kami ketika melihat sebuah plang sewaktu tiba di kompleks Candi Prambanan. Plang itu menyatakan bahwa area Candi tutup pukul lima sore dan kami melirik pada arloji yang seolah mengejek dengan menunjukkan bahwa kala itu sudah jam setengah lima sore. Kami pun langsung berlarian menuju loket pembelian karcis. Dengan tergopoh-gopoh kami membayar tiket seharga Rp 22.000,- per orang. Tanpa membuang banyak waktu, namun tetap dengan kondisi tas masih bergelantungan di tubuh kami, begitu pula benda-benda lain memenuhi tangan-tangan kami.

Beruntung, di sana ada tempat penitipan barang. Yah, mungkin memang untuk meminimalkan dampak tangan-tangan jahil terhadap benda-benda di situs bersejarah itu. Alhasil, semua benda yang membebani, kecuali barang berharga dan kamera, kami titipkan pada ibu (yang baik) penjaga tempat penitipan barang itu.

Kami pun tidak mau menyia-nyiakan rupiah yang kami keluarkan untuk masuk kompleks candi ini. Kami segera berkeliling dengan kecepatan ekstra, mengambil gambar dengan kilat, namun sembari tetap menikmati dan mengagumi situs tersebut.

Waktu telah menunjukkan pukul lima, teringat akan segala barang yang dititipkan di tempat penitipan, khawatir ibu penjaga pulang setelah jam kerjanya habis, kami segera berjalan cepat menuju pintu keluar. Tapi tetap tak lupa mencari oleh-oleh dan berfoto ria. Dari kejauhan terlihat tempat penitipan barang sudah ditutup.

[bersambung]

Friday, 30 September 2011

Es Krim dan Hujan [part one]

Tahun ini berbeda dari biasanya. Entah mengapa saya ingin memberi sedikit kejutan pada ibu saya di hari peringatan kelahirannya, 4 Februari. Padahal di keluarga kami tidak ada tradisi untuk memperingati hari kelahiran. Hanya kangen saja, karena sudah lama tidak berkumpul bersama, sebab saya selalu di asrama, sedangkan adik saya ikut bersama nenek, dan alhasil ibu saya sendiri saja di rumah.

Banyak ide yang terlintas di dalam benak saya,. Namun akhirnya terpilih satu ide, es krim. Ya, santapan ini jarang-jarang hadir di tengah-tengah kami, belum lagi beberapa kali rencana makan es krim itu gagal, mati lampu lah, habis lah. Jadi saya rasa ini adalah saat yang tepat untuk menikmati es krim (salah satu makanan favorit saya). Adik saya pun setuju.

Setelah saya berpikir lagi, tercetuslah keinginan untuk membelikan kado juga. Ya, menyenangkan hati orang tua boleh donk (teringat kado yang saya berikan padanya tahun lalu: kain kerudung dan bros,hehehe) meski memang cara yang ditempuh bisa berbagai macam. Saya pun memutuskan untuk membeli buku yang berkaitan dengan kerajinan tangan, lumayan untuk referensi barang produksi kelak. Yupz, inginnya sih beli yang impor (dari Jepang), tapi harganya itu lho... Tak cukup lah budgetnya. (so, maybe next time). Akhirnya saya cari buku dengan range harga yang terjangkau oleh kocek saya yang terbatas ini.

Tibalah pada sore empat Februari. Adik saya menjemput ke asrama.

Ternyata perjalanan kami tidak terlalu mulus. Dengan mengendarai motor, turunnya hujan kala itu benar-benar menjadikan perjalanan kami pulang ke rumah seperti perjuangan berat menuju tempat yang jauh. Selain membuat sekujur tubuh basah kuyup, hujan yang tercurah dengan deras itu pun seolah menghanyutkan keinginan untuk membeli es krim. Dingin-dingin begini makan es krim? Tapi, setelah tiba di depan sebuah mini market tidak jauh dari rumah, kami meyakinkan diri untuk tetap membeli es krim V*******a.

Setelah membeli es krim, kami langsung melanjutkan perjalanan. Mulanya kami berharap bisa memberikan surprise dengan mengendap-endap masuk rumah, tapi apa daya, baru saja tiba di depan gerbang, ibu saya sudah keluar rumah dan melihat kami. Gagal sudah.  

Sunday, 24 July 2011

Apa Benar ini Mati Lampu?

Baterai laptop tinggal separuh. Koneksi internet pun didapat dari laptop sebelah. Malam ini, meski seharusnya saya tidak di sini lagi, tapi kenyataan berkata lain. Ya, saya sedang menginap di asrama yang notabene seharusnya sudah saya tinggalkan.

Malam ini, setelah melepas kepergian personil e-Band 2010 yang hendak menuju Jogja, saya memutuskan untuk ikut menginap di asrama, karena jaraknya lebih dekat dibanding harus pulang ke rumah. Tak disangka, entah mengapa, listrik di asrama mati. Kini saya hanya mengandalkan penerangan senter dari ponsel, dan batere laptop yang sudah hampir tersisa sepertiganya.

Mulanya saya memberanikan diri untuk mengecek ke luar, dan untuk menyalakan saklarnya. Namun sesampainya di ruang tengah, saya urungkan niat saya itu. Dalam pikiran saya tiba-tiba banyak hal yang berkecamuk. Melirik rumah sebelah dari kaca belakang. Lampunya tidak mati. Oh, tidak, artinya hanya tempat kami saja yang mati lampu. Mengingat hanya tertinggal saya seorang diri yang masih terjaga, saya benar-benar mengurungkan niat saya untuk mengecek kondisi di depan. Karena hal yang paling saya takutkan adalah bagaimana kalau memang ada yang sengaja mematikan saklar itu, lalu dia menunggu ada seseorang yang keluar untuk mengeceknya. Ah, tidak, lagi-lagi imajinasi saya mulai berlebihan. Namun karena sudah sempat terlintas pikiran seperti itu, maka saya putuskan untuk menulis saja di blog, dengan segenap energi yang tersisa. Semoga semua itu memang hanya imajinasi saya saja. Ya, saya akan cek kondisi sekringnya besok pagi saja.

Friday, 1 July 2011

Ini Kosan Irfan?

Entah mengapa mengingatnya membuat saya merinding, takut akan sesuatu yang tidak baik dapat terjadi.

Hal ini terjadi kemarin, tepatnya tidak lama setelah adzan maghrib berkumandang. Saya baru saja selesai berwudhu dan berjalan ke ruang tengah untuk menunaikan shalat maghrib. Namun saya dikejutkan oleh siluet pemuda di pintu depan. Sontak saja saya memekik dan langsung berlari ke arah sudut mati pandangan pemuda itu. Tentu saja dengan kondisi lampu dalam menyala dan gorden yang tersingkap, pemuda itu dapat melihat jelas ke ruang tamu dan sebagian ruang tengah melalui pintu yang didominasi kaca itu. Sungguh mengagetkan.

"Tunggu sebentar," saya menjawab kedatangannya.

Memang saat itu beberapa orang dari asrama putra memang sedang beristirahat sejenak di tempat kami setelah kepulangan kami dari kegiatan bakti sosial hari itu. Tapi mereka semua sedang pergi ke masjid. Jadi, siapakah yang ada di balik pintu depan itu. Saya rasa (saat itu) saya tidak mengenalnya. Setelah cukup bersiap, saya beranjak menuju pintu depan dan membukanya. Oops, ternyata tidak terkunci. 

Benar saja, pemuda itu tidak saya kenali.

"Hendak mencari siapa ya?"

"Apa ini kosan irfan?" tanyanya

"Bukan."

Pemuda itu pun langsung melengos pergi. Saya pun langsung menutup pintu dan TIDAK LUPA menguncinya.

Setelah selesai shalat maghrib dan penghuni asrama putra kembali dari masjid, kami berbincang sejenak. Saya pun bercerita mengenai kejadian tadi.

Ternyata ada tanggapan mengejutkan yang diungkapkan oleh salah satu dari mereka.

Berikut penuturannya (tidak persis sama, namun secara substansi sejalan) :

Aku pernah diceritain ama seorang bapak-bapak. Ada kejadian seseorang datang dan mengaku sebagai teman dari salah satu pemilik kamar kosan (yang sedang tidak ada di tempat) lalu berkata pada orang yang tinggal di kamar lain di kosan itu kalau dia disuruh ama si pemilik kosan untuk mindahin isi kamarnya ke tempat lain. Si pemilik kamar lain (dengan polosnya) mempersilakan. Dan ternyata setelah si pemilik balik ke kosan, dia sangat terkejut bukan kepalang karena melihat kamarnya yang kosong melompong.

Ckckck.. Ada-ada saja cara maling beroperasi.

Saya pun teringat akan plang di depan yang bertuliskan huruf besar-besar "ASRAMA PUTRI BEASTUDI ETOS BANDUNG". Lha, kok masih tanya, apa ini kosan Irfan?

Monday, 6 June 2011

My First Ascending

Panjat tebing, climbing, rappelling adalah cita-cita lama yang tak kunjung kesampaian, hingga kemarin. Ya, dalam acara penutupan kegiatan asrama semester genap ini akhirnya saya bisa mencicipi yang namanya ascending. Eits, ini bukan istilah dalam software komputer lho, tapi yang berkenaan dengan pencita alam. Ascending di sini identik dengan panjat tebing menggunakan tali dan alat bantu yang biasa disebut ascender.

Pertama kali mencoba ternyata sangat sulit. Tidak mudah untuk membuat posisi tubuh seimbang. Untuk mengangkat badan agar bisa naik saja, huft, berat sekali rasanya. Apalagi masih belum ngeh dengan tekniknya, padahal para pelatih sudah meneriaki berulang kali.
Ascending merupaka teknik memanjat tebing dengan meniti seutas tali yang sudah lebih dulu tertambat di atasnya. Jika dilakukan konvensional, ascending dapat dilakukan dengan bantuan simpul-simpul tali tambahan. Namun ada pula alat yang disebut ascender untuk membantu proses penitian tali.

Nah, yang kemarin saya coba itu ascending dengan bantuan alat. Ada dua ascender yang dipakai, yang dikendalikan oleh tangan kanan dipakai untuk menahan badan, sedangkan yang dikendalikan oleh tangan kiri dipakai untuk menahan pijakan kaki. Ascender ini tidak bisa tertarik ke bawah, terkecuali kuncinya dibuka. Alat ini pun tidak bisa didorong ke atas kalau sedang menanggung beban. Maka, untuk dapat naik, kita harus memberikan tumpuan secara bergantian pada ascender.

Jadi ketika kita berdiri pada pijakan yang terhubung pada ascender di tangan kiri, maka ascender di tangan kanan tidak akan menanggung beban sehingga bisa didorong ke atas. Setelah itu badan kita yang ditumpukan pada ascender di tangan kanan dan pijakan kaki dibuat rileks sehingga ascender di tangan kiri dapat didorong ke atas. Lalu berdiri lagi pada pijakan dan mendorong ascender pada tangan kanan, dan begitu seterusnya. 

Ya, kira-kira begitulah caranya. Terdengar sederhana namun ternyata membutuhkan tenaga ekstra, apalagi bagi perempuan seperti saya yang tidak rutin olahraga, fuh, hanya mampu sampai 1/4 tebing saja (tebingnya setinggi 33 meter). Itu pun rasanya capek banget. Mana untuk turun harus rappelling sendiri. Hiks, tangan ini sudah tidak kuat, tapi mau bagaimana lagi, kan masih banyak yang antri (maaf ya buat yang nunggu, sungguh itu sudah ekstra tenaga yang keluar). Pegel-pegel tangannya saja sampai sekarang masih terasa. Mau ngangkat tangan susah, mau jalan susah. Hahaha, repot bener. Tapi saya tetap berharap akan ada kesempatan berikutnya untuk menaklukkan tebing itu dan tebing-tebing lainnya. Aamiin...

Thursday, 19 May 2011

Makan Tekwan dengan Jalan yang Benar

Selasa kemarin, dengan modal nekat bolos responsi elda (padahal H -1 ujian) demi memenuhi kewajiban yang lain, saya pergi bersama kakak-kakak kelompok Bima untuk kunjungan ke rumah ade Radhwa di Giri Mekar, Ujung Berung. Saya tidak akan menceritakan bagaimana dan seperti apa perjalanan untuk bisa tiba di sana, karena yang ingin saya bahas di sini adalah salah satu makanan khas Palembang yang baru di lidah saya, tekwan namanya.

Ketika tiba di rumah ade Radhwa, kami langsung disuguhi nasi, sayur, pepes ayam, dan tekwan tentu saja. Bunda Radhwa bilang kalau itu tekwan asli bikinan orang Palembang, neneknya Radhwa. Wah, girang sekali hati ini, akhirnya bisa juga nih nyicipin makanan yang namanya tekwan, gratis pula. Hehehe. Dengan semangat empat lima (tapi ditambah sedikit malu-malu), saya langsung ambil piring, menyentong nasi ke dalamnya, menyendokkan tekwan di atasnya, lalu di tambah dengan sedikit sayur di sampingnya. Kakak-kakak yang lain pun mengikuti di belakang saya.
Setelah semua siap dengan piring/mangkoknya masing-masing, kami berkumpul lalu mulai makan. Bunda pun menanyakan soal rasa tekwan buatan nenek Radhwa itu. Mmmh, jujur saja, karena saya belum pernah makan, jadinya saya tidak bisa berkomentar banyak, yang ada hanyalah celetukan senang karena bisa makan tekwan. Namun diam-diam ada kakak yang bilang, "Wah, Bun, ini tekwannya enak banget," yang setelah diusut memang asli orang Sumatera, wajarlah ya bisa berkomentar, "tapi saya belum pernah makan tekwan pake nasi."

Hahahaha. Meledak lah tawa di antara kita sambil melihat piring masing-masing (bagi mereka yang bukan orang Sumatera itu). Malu juga, apalagi saya yang ngawalin. Yah, meski gak aneh sih kalo makan baso pake nasi (di rumah juga suka kayak gitu), tapi tetep aja malu. Akhirnya sebagai pembelaan diri (plus biar bisa makan tekwan lagi), saya bilang aja, "Ya, Bun, nanti saya tambah lagi aja tekwannya. Tapi tambah dengan jalan yang benar."

#sayang, saya lupa gak mengabadikan nasi tekwan itu..hehehe

Friday, 4 March 2011

Medali dari Bali

Orang bilang, paling mudah mencari rekan ya dengan orang yang sudah dikenal dan mengenal kita. Barangkali pepatah inilah yang mendorongnya mengajak saya bergabung dalam tim untuk ikut serta di Program Kreatifitas Mahasiswa 2010 yang diselenggarakan oleh Dikti. Dia adalah kakak tingkat di jurusan. Dia juga menerima beastudi berasrama, sama seperti saya. Eits, tentu tidak satu asrama karena beastudi ini menyediakan asrama bagi putra dan putri secara terpisah. Namun kegiatan yang diselenggarakan seringkali merupakan kegiatan global sehingga diikuti oleh penghuni kedua asrama. Ya, mungkin karena relasi itu dia mengajak saya menggenapkan timnya.

Tanpa menghabiskan tenaga untuk berpikir panjang, saya menyanggupi untuk bergabung. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu hanyalah saya sedang disodori kesempatan untuk mengikuti suatu kompetisi, jadi mengapa tidak dimanfaatkan. Hari perekrutan pun berlalu tanpa sempat saya bertanya-tanya lebih jauh mengenai kompetisi itu dan anggota tim yang lain.

Dalam pengajuan proposal, saya tidak banyak membantu, bahkan tepatnya tidak membantu apapun. Anggota macam apa saya ini. Tapi apa mau dikata, memang itulah yang terjadi waktu itu. Karena waktu pengumpulan terlampau dekat dan tidak ada kesempatan saya ikut berkumpul bersama mereka. Nasib jadi satu-satunya perempuan dalam tim memang begini. (Mungkin) Mereka hanya punya waktu berkumpul larut malam, saya jadi hanya bisa berdiam diri saja.

Detik-detik begitu cepat berlalu. Hari berganti hari. Tibalah saat pengumuman proposal yang akan didanai. Sebagai pihak yang tidak berkontribusi apapun pada pengajuan proposal, saya tidak bisa menaruh perasaan cemas ataupun tidak peduli. Yang saya harapkan hanyalah suatu kejelasan, lolos atau tidak.

Ternyata proposal kami masuk dalam daftar yang akan didanai. Ketika itu saya malah jadi bingung, haruskah saya merasa senang atau bagaimana karena saya teringat akan topik proposal yang tim kami ajukan. Ya, saya mengetahui topik itu bahkan jauh setelah hari perekrutan itu. Tidak baik rasanya jika saya mundur dari keanggotaan hanya karena topik itu. Memang, langkah yang saya ambil saat setuju untuk turut bergabung adalah langkah yang tidak dipikirkan secara jauh, bahkan tidak ada perhitungan apapun saat pengambilan keputusan itu. Tapi kini saya tidak menyesali tindakan ceroboh saya waktu itu. Karena di sanalah semua itu bermula.

Pendanaan proposal berangsur-angsur cair. Tanggung jawab untuk menjalankan proposal semakin besar. Meski menyadari itu, gairah saya tidak terlalu besar dalam menjalankannya. Itu memang mulanya. Mungkin karena energi aktivasinya yang terlampau besar. Namun tenggat waktu yang semakin mendekat memaksa kami semua, terutama saya, untuk lebih serius dalam menjalankannya.

Berbekal sedikit pengetahuan praktis mengenai rangkaian elektronika, saya turut mengoprek rangkaian dari alat kami. (Maklum, sejauh ini yang saya pelajari baru sekedar teori di atas kertas saja). Dengan agak sok tahu, saya pun memberi komentar di sana-sini. Tentu itu semua saya lakukan untuk memberi kontribusi terbaik yang bisa saya berikan. Beberapa kali, kami berkonsultasi dengan dosen pembimbing berkenaan dengan rangkaian yang kami buat.

Hingga waktu monitoring dan evaluasi tiba (yaitu sekitar satu bulan sebelum penilaian akhir) alat yang kami buat masih jauh dari kata selesai. Memang secara sederhana alat kami sudah berfungsi, namun masih belum sesuai dengan tujuan dari proposal kami. Berbekal dengan casing yang dibuat secara dadakan, kami pun bersiap menghadap juri dalam monitoring dan evaluasi itu.

Komentar yang paling saya ingat dari juri saat monev adalah “Bagus ya alatnya sudah dapat berfungsi, tapi kok penampilannya serem sekali ya? Apa iya ada yang mau pakai kalau tampilannya seperti itu? Jangan-jangan malah takut duluan lagi. Gimana?” Saya merasa sangat gugup ditodong dengan pertanyaan seperti itu. Apalagi desain casing adalah buatan saya, jadi seakan-akan semua itu adalah tanggung jawab saya. Beruntung memiliki rekan satu tim seperti mereka. Bukan melimpahkan pertanyaan tersebut pada saya sebagai sang pembuat desain, tapi justru berusaha memberikan penjelasan bahwa ini baru tahap percobaan, masih akan terus dikembangkan, begitu pula soal casing-nya.

Melihat tim lain melakukan presentasi saat monitoring dan evaluasi, saya merasa nyali saya menciut. Progress mereka tampak lebih baik. Performanya pun begitu meyakinkan. Tidak ada hal yang bisa saya banggakan. Saya hanya bisa berharap hasil akhir nanti memang yang terbaik bagi tim kami.

Setelah melalui monitoring dan evaluasi, pekerjaan kami tidak selesai sampai di situ, masih banyak hal yang harus dibenahi, terutama dari segi kegunaan alat dan pengemasan. Perjuangan di hari-hari terakhir begitu berkesan. Segala bentuk emosi tertumpah di sini. Semangat. Marah. Kesal. Penasaran. Semuanya bercampur aduk. Hanya ada satu hal yang tidak ada dalam diri saya waktu itu (entah untuk anggota tim yang lain), yaitu ambisi. Ya, dalam pengerjaan pelaksanaan proposal itu saya sama sekali tidak memiliki ambisi apa pun. Tidak untuk menjadi pemenang atau apa pun. Yang terpikirkan hanyalah bagaimana semua ini harus segera berakhir.

Akhirnya laporan akhir pun dikirimkan. Meski saat itu kerja sama dengan mitra belum terlaksana benar. Ya, saya lupa mengatakan bahwa PKM yang kami ikuti adalah PKM bidang Penerapan Teknologi yang keberjalanannya harus bekerja sama dengan mitra. Jarak kami dengan tempat mitra memang menjadi sedikit kendala. Tempat mitra berada memang terlampau jauh, sehingga kami tidak bisa sering-sering berkunjung ke sana.

Berita yang mengejutkan saya baca dari sebuah pesan singkat yang saya terima. Meski tidak mengharapkannya, ternyata saya merasa senang memiliki kesempatan untuk menginjakkan kaki di pulau dewata, tempat PIMNAS XXIII di laksanakan. Ya, tim kami lolos ke tahap akhir yang bergengsi ini. Dengan ini, pekerjaan kami jadi belum selesai. Kami jadi harus mempercepat waktu kunjungan kami ke tempat mitra untuk serah terima alat, juga mempersiapkan presentasi dan poster untuk dipamerkan.

Hari keberangkatan kami begitu dekat, akhirnya kami memutuskan untuk membagi-bagi tugas. Para pria pergi ke tempat mitra untuk menyelesaikan hubungan kerja sama, sedangkan saya tetap berdiam di Bandung untuk menyelesaikan pembuatan poster dan presentasi.

Pembagian yang baik, apalagi setelah tahu, di tempat mitra mereka (para laki-laki) bepergian hanya dengan satu motor untuk tiga orang karena tidak ada lagi kendaraan. Kalau saya ikut, tidak tahulah apa jadinya.

Keberangkatan saya ke Bali adalah suatu pengalaman yang begitu berkesan, selain berkesempatan mengikuti ajang kompetisi tingkat nasional, saya pun dapat pengalaman pertama menjadi penumpang pesawat terbang. Rasanya begitu menyenangkan. Apalagi mendapat teman-teman seperjalanan yang begitu ramah. Kebersamaan kami yang hanya lima hari saja dapat membuat kami lebih mengenal satu sama lain.


Pesawat yang telah mengantarkan kami ke Pulau Dewata
(Lokasi : Bandara Ngurah Rai, Bali)

Bersama Maskot PIMNAS XXIII

Berkumpulnya peserta dari berbagai daerah pun ternyata menjadi kesempatan bagi saya untuk berkumpul dengan sesama penerima beastudi. Kami yang berasal dari kota yang berbeda merasa dipersaudarakan dengan beastudi ini. Sehingga pertemuan kami di sana begitu membahagiakan. Rasanya senang sekaligus bangga memiliki rekan seperjuangan seperti mereka. Latar belakang kami yang tidak jauh berbeda menjadikan kami bisa saling memahami dan memberikan dorongan.

Tibalah saat presentasi. Kami dikelompokkan berdasarkan bidang, lalu dibagi menjadi tiga atau empat kelas. Jadilah dalam satu kelas terdiri dari sekitar dua puluh tim yang akan mempresentasikan jerih payahnya.

Hari pertama presentasi. Persiapan yang minim dan briefing singkat yang kami lakukan saat jeda istirahat siang ternyata modal kami presentasi di sore harinya. Segalanya begitu mendadak, bahkan kami belum sempat latihan satu kali pun, karena ternyata sebelum istirahat sore, nomor tim kami terpanggil untuk melakukan presentasi. Tidak ada kuasa untuk menolak, semua itu hanya bergantung dari hasil kocokan saja. Apa boleh buat, kami harus maju, berbekal persiapan seperti apa pun.

Pembukaan. Yang saya ingat hanyalah jawaban dari salah seorang kakak tingkat dari tim lain saat saya bertanya padanya, kata-kata apa yang bagus ya untuk pembukaan presentasi kami. Karena itu, jawabannyalah yang terlontar dari bibir saya.

“Apakah ada hadirin di sini yang belum disunat?”

Spontan suara penonton menjadi riuh rendah. Semua orang berebut memberi komentar dan berbisik pada teman-teman yang duduk di dekatnya. Kontan saya pun jadi bingung, hendak meneruskan seperti apa. Semenit kemudian saya berhasil menguasai diri saya dan mulai berbicara layaknya sales yang menawarkan barang dagangannya. Nampak dari mata penonton tatapan-tatapan penasaran. Sungguh, itu sangat membuat gugup saya bertambah-tambah. Di saat saya kebingungan harus mengatakan apalagi, rekan saya langsung mengambil alih posisi presenter.

“Ya, sepertinya akan lebih enak kalau saya yang menjelaskan, daripada memaksa rekan wanita saya ini, karena ini urusan yang agak sensitif,” begitulah kurang lebih pembelaan rekan saya.

Suara penonton kembali bergemuruh. Setelah bertukar posisi, saya pun berusaha menenangkan diri.

Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa disadari lampu kuning sudah menyala, artinya waktu yang tersisa hanya dua menit lagi, tapi saya memprediksi presentasi kami tidak bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang tersisa. Benar saja, presentasi kami berakhir tanpa sempat mengucapkan kata-kata penutup karena lampu merah terlanjur menyala, dan bel tanda berakhirnya jatah waktu presentasi sudah berbunyi. Saya hanya bisa menyalahkan diri saya yang terlalu berlama-lama di bagian pembuka.

Tapi semua itu sudah berlalu. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan untuk merubahnya. Yang bisa dilakukan saat itu hanyalah berdoa.

Malam itu pun saya lalui dengan melihat rekan kami dari tim lain yang sedang gigih berlatih untuk presentasi. Ada satu hal yang saya syukuri saat itu. Presentasi sudah kami lalui, sehingga malam itu kami bisa agak bersantai. Ya sedikit menikmati malam di pulau dewata.

Yang tersisa adalah pameran poster.

Pameran poster diadakan di sebuah GOR tidak jauh dari kampus tempat PIMNAS dilaksanakan. Ruangannya begitu padat, sehingga ketika tempat pameran dibuka, semua orang berjalan berdesak-desakan di dalamnya. Tidak ada persiapan yang istimewa untuk pameran poster ini, kami beranggapan hanya poster saja yang dipamerkan (maklum, pengalaman pertama). Ternyata pameran poster lebih heboh dari yang saya bayangkan. Alhasil stand kami berdiri dengan begitu sederhana.

Saat yang dinantikan pun tiba. Pengumuman pemenang dilaksanakan di Art Center, tempat yang sama saat kedatangan para peserta disambut dalam Welcome Party. Ribuan orang berkumpul di sana. Suasana begitu menegangkan. Meski tidak berambisi menjadi pemenang, dalam hati kecil tetap saja berharap mendapat sesuatu di sini, yah, minimal juara favorit lah.

Akhirnya, satu persatu pemenang per kategori disebutkan. Awalnya adalah pemenang dari pameran poster. Sayang, poster kami tidak berhasil meraih juara apapun. Suara riuh rendah peserta saat institusinya disebut, begitu meramaikan Art Center malam itu. Lalu berlanjut pada pengumuman pemenang dari kategori presentasi. Sama halnya dengan pameran poster, pengumuman pemenangnya diurut berdasarkan kategorinya. Tim dari ITB memang hanya sedikit, namun tidak sedikit yang membawa pulang medali kemenangan.

Setiap kali tim dari ITB disebut sebagai pemenang, kami yang jumlahnya bahkan tidak sampai 50 orang itu serentak berdiri dan memberikan salam Ganesha terbaik kami. Rasanya bangga sekali bisa meneriakkan salam kebanggaan di hadapan orang-orang yang berasal dari berbagai daerah itu. Ya, setiap kali memang, kecuali saat tim saya yang dipanggil. Tampaknya saat itu hanya satu rekan saya yang menyadari bahwa kami dipanggil sebagai peraih medali setara perak karena tidak ada satupun dari kami yang berdiri untuk bersiap mengumandangkan salam Ganesha. Yang terdengar hanyalah jeritan kaget dari rekan saya itu, barulah kami semua tersadar, dan tentu saja sudah terlambat untuk memberikan salam Ganesha karena pengumuman sudah berlanjut untuk menyebut nama-nama yang lain. Sayang sekali.

Ketua kelompok menerima piala serta medali
Piala yang berhasil kami bawa pulang

Dari total 6 tim yang lolos ke PIMNAS, ITB mampu memperoleh 4 medali dengan rincian 2 medali emas presentasi, 1 medali perak presentasi dan 1 medali perunggu poster.

Ya, setidaknya kami bisa menyumbang satu dari empat medali itu. Sungguh berkesan, medali dari Bali.

Wednesday, 1 December 2010

Abdi neda, ibu ....

Ini adalah kisah saat saya masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Suatu cerita yang menunjukkan bahwa lingkungan memberikan dampak yang lebih besar daripada pelajaran di sekolah. Mungkin detailnya tidak bisa saya ingat karena saat itu saya masih sangat belia. Tapi intisarinya masih bisa saya sampaikan di sini.

Sewaktu duduk di kelas satu sekolah dasar, semua siswa mendapatkan kewajiban untuk belajar bahasa daerah. Alhasil kami semua mendapatkan mata pelajaran bahasa daerah sesuai dengan lokasi sekolah kami berada, yaitu Bahasa Sunda. Minggu-minggu pun dilalui tanpa melewatkan tatap muka dengan guru Bahasa Sunda kami di kelas. Hingga tiba saatnya untuk mengevaluasi hasil belajar kami dengan diadakan ulangan untuk setiap mata pelajaran, ya, termasuk mata pelajaran Bahasa Sunda ini.

Tibalah saat kami menghadapi soal-soal ulangan mata pelajaran Bahasa Sunda. Saya baca satu per satu soal-soal yang ada pada lembaran soal itu. Kebanyakan hanyalah berupa isian pendek, maklum, namanya juga soal ulangan untuk siswa kelas satu sekolah dasar. Perintahnya rata-rata menyuruh untuk melengkapi kalimat-kalimat yang terpotong, salah satunya :
Abdi neda, ibu ...

Sesaat setelah saya membaca soal itu, saya langsung menuliskan apa yang terlintas dalam benak saya. Ya, karena saya pikir soal itu sangat mudah sekali.

Dalam bahasa daerah memang seringkali ada tingkatan yang berbeda-beda dari penggunaan kata. Sehingga perkataan yang ditujukan untuk teman sebaya akan berbeda dengan perkataan yang ditujukan untuk orang yang lebih tua. Nah, begitu pula untuk percakapan dalam bahasa Sunda.

Waktu pun berlalu, hingga tiba saatnya hasil ulangan mata pelajaran Bahasa Sunda kami dibagikan. Saya sangat terkejut melihat lembaran jawaban saya. Saya heran, mengapa soal yang saya anggap mudah itu dicoret dan dinyatakan salah oleh guru saya. Sedih rasanya, namun kesedihan itu tidak saya tunjukan di sekolah.

Setibanya di rumah, saya menceritakan mengenai hasil ulangan saya itu, terutama mengenai soal yang mudah tersebut kepada seluruh penghuni rumah. Namun apa yang saya dapati. Mereka semua malah menertawakan saya, karena yang saya tulis di kertas jawabannya adalah
Abdi neda, ibu dahar

Sudah sewajarnya kalau saya mengisikan kata tersebut di kertas jawaban saya. Ketika itu Saya sering mendengar kata itu ditujukan untuk mbah kakung (sebutan untuk kakek dalam bahasa jawa-red) ketika sedang ditawari makan. Jadi yang ada dalam pikiran saya ketika itu ya kata itulah yang benar sebagai jawaban. Padahal yang sehari-hari saya dengar itu adalah bahasa Jawa, bukan bahasa Sunda.

Iya, dalam bahasa Jawa, kata 'dahar' memang ditujukan untuk orang yang lebih tua, sedangkan dalam bahasa Sunda, kata 'dahar' justru merupakan bahasa yang kasar, bahkan tidak baik dipakai untuk teman sebaya sekalipun. Jadi, karena yang saya ikuti adalah mata pelajaran Bahasa Sunda, jawaban tersebut menjadi tidak tepat.

[masih banyak kata yang memiliki kesamaan lafal dan penulisan namun berbeda maknanya dalam berbagai bahasa, ini hanya salah satu contoh saja. tidak ada maksud membeda-bedakan, karena semua memiliki keunikan masing-masing]

Monday, 11 October 2010

Kunci hilang? Harap Waspada!

~ Kehilangan kunci pintu depan bukanlah suatu hal yang mustahil. Namun, berbahayakah jika hal tersebut terjadi? ~

Pagi ini sebuah tragedi terjadi. Sekitar pukul 6.30 ada yang membuka kunci pintu depan dari arah luar. Spontan kawan saya yang sedang berada di lantai satu melontarkan pertanyaan, "Siapa?" Tapi tidak ada jawaban. Ketika kawan saya itu melihat ke arah luar lewat pantulan cermin di ruang tamu, begitu terperanjatnya dia karena yang dia lihat bukanlah salah satu penghuni dari rumah kami (toh, semua orang memang masih ada di rumah) tapi seorang pemuda tanggung yang hendak berusaha masuk ke dalam rumah kami. Dia pun langsung memasang kunci selot dari dalam guna mencegah pemuda itu masuk ke rumah kami karena di saat yang bersamaan sang pemuda itu berusaha masuk dengan membuka pintu depan itu. Kontan setelah sang pemuda sadar bahwa di dalam ada orang, dia langsung pergi dan kami yang berada di dalam hanya bisa mendengar suara mesin motor yang mengeleos pergi.

Deduksi awal kami tentu bermula dari beberapa kunci pintu depan yang hilang (karena memang digandakan sesuai dengan jumlah penghuninya). Kami hanya bisa membayangkan bahwa mungkin saja kunci tersebut terjatuh, dan ada yang memungut lalu mencoba-coba ke setiap pintu-pintu, apakah ada yang cocok dengan kunci itu, seperti kisah pangeran yang mencari Cinderella dengan mencocokkan sepatu kacanya.

Tentu hingga saat ini perasaan waswas pada diri kami belum jua hilang, karena peristiwa pagi ini bisa saja terulang kembali tanpa ada satu pun di antara kami yang menyadari. Kami hanya bisa berdoa semoga tidak ada hal yang tidak mengenakan terjadi pada rumah kami (beserta isinya) dan mengusahakan pengamanan yang lebih baik (mungkin dengan mengganti kunci).

Pelajaran untuk kita semua, jangan sampai kita lalai menjaga hal-hal yang penting, misal kunci pintu depan rumah kita.

Lokasi kejadian : Jl.Cisitu Baru, Dago, Bandung